prisma dan tabung

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai permasalahan yang melibatkan volume. Misalnya, ketika kita pergi ke swalayan untuk membeli makanan instan, sebaiknya kita membandingkan volume dan harga dari beberapa item untuk melakukan pembelian yang bijaksana. Berbagai macam profesi juga sering menggunakan volume dalam membantu pekerjaan mereka. Seorang insinyur bangunan harus menghitung volume dan berat dari bagian-bagian jembatan untuk menghindari terlalu banyak tekanan dari masing-masing bagian-bagian tersebut. Fisikawan, kimiawan, dan ilmuwan lainnya harus dapat melakukan penghitungan volume dengan sangat cermat pada setiap penelitiannya. Seorang koki juga harus dapat menghitung volume komposisi bahan makanan yang akan mereka masak secara tepat agar menghasilkan masakan yang lezat.

Jembatan

Volume adalah ukuran yang menyatakan jumlah ruang yang terkandung dalam bangun ruang. Kita gunakan satuan kubik untuk mengukur volume dari suatu benda: centimeter kubik (cm3), meter kubik (m3), inchi kubik (in3), dan sebagainya. Volume dari suatu benda merupakan banyaknya kubus satuan yang dapat mengisi secara penuh objek tersebut.

Satuan Panjang dan Kubik

Investigasi: Menemukan Rumus Volume Prisma dan Tabung

Untuk menemukan rumus dalam menghitung volume prisma dan tabung, lakukan langkah-langkah berikut:

Langkah 1: Tentukan volume dari masing-masing prisma segiempat berikut dengan satuan cm3! Untuk menghitung volume dari masing-masing prisma tersebut, hitunglah banyaknya kubus satuan yang dimuat oleh prisma tersebut.

Prisma Segi Empat

Perhatikan bahwa banyaknya kubus satuan yang ada di alas sama dengan banyaknya persegi satuan yang menempati alas tersebut. Demikian juga dengan banyaknya lapisan kubus satuan sama dengan banyaknya satuan tinggi dari prisma tersebut. Sehingga kita dapat menggunakan luas daerah alas dan tinggi dari prisma tersebut untuk menemukan volume prisma tersebut.

Rumus Volume Prisma Segi Empat
Jika A adalah luas alas prisma dan t adalah tinggi dari prisma, maka volume dari prisma segi empat adalah V = A ∙ t

Langkah 2: Rumus di atas juga dapat digunakan untuk menghitung volume prisma tegak yang memiliki alas bukan segi empat.

Prisma Tegak

Pada prisma tegak sembarang, banyaknya kubus satuan yang menempati sisi alas sama dengan banyaknya persegi satuan yang menempati sisi alas, demikian juga dengan banyaknya lapisan kubus satuan sama dengan banyaknya satuan tinggi dari prisma tegak tersebut. Sehingga dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut.

Rumus Volume Prisma-Tabung Tegak
Jika A adalah luas alas prisma dan t adalah tinggi dari prisma, maka volume dari prisma tegak adalah V = A ∙ t

Langkah 3: Bagaimana dengan volume dari prisma atau tabung miring? Kamu dapat memperkirakan volume prisma miring dengan menyusun tumpukan kertas A4. Susunlah 3 rim kertas A4 seperti gambar berikut.

Tumpukan Kertas

Tumpukan pertama, kertas dikumpulkan per rim. Sedangkan tumpukan kedua, kertas 3 rim digabung jadi satu. Pada tumpukan kedua ini bentuknya mendekati bentuk prisma miring. Padahal yang kita susun adalah kertas yang sama, sehingga volumenya adalah tetap. Apa yang dapat disimpulkan? Volume prisma dan tabung miring sama dengan volume prisma dan tabung tegak.

Rumus Volume Prisma-Tabung Miring
Jika A adalah luas alas prisma dan t adalah tinggi dari prisma, maka volume dari prisma miring adalah V = A ∙ t

Langkah 5: Pada akhirnya, kita telah menemukan rumus volume dari prisma dan tabung tegak ataupun miring. Kedua rumus yang kita dapatkan adalah sama.

Rumus Volume Prisma dan Tabung
Volume dari prisma dan tabung adalah luas alas dikalikan dengan tingginya

Kita telah menemukan rumus volume dari prisma dan tabung. Dari rumus yang kita dapatkan, volume prisma dan tabung dapat dicari dengan mengalikan luas alas dengan tingginya, apapun bentuk dari alasnya. Pada prisma dan tabung miring, rusuk yang tidak sejajar dengan bidang alas, juga tidak tegak lurus dengan bidang alas. Sehingga kita tidak dapat menggunakan panjang dari rusuk tersebut sebagai tinggi dari prisma atau tabung miring tersebut.

“Teaching Geometry to Visually Impaired Students”

Artikel dengan judul “Teaching Geometry to Visually Impaired Students” ini ditulis oleh Christine K. Pritchard, seorang guru Geometri di Robert E. Lee High School Texas, dan John H. Lamb, mantan guru Matematika SMP dan SMA dan sekarang menjadi asisten profesor pendidikan Matematika di University of Texas. Artikel ini berisi tentang pengalaman penulis tentang mengajar geometri kepada peserta didiknya yang memiliki keterbatasan penglihatan (tuna netra). Dalam mengajarkan geometri kepada tuna netra, terdapat beberapa kendala yang disebutkan pada artikel ini. Karena pada dasarnya, kemampuan visualisasi sangat diperlukan dalam pemahaman geometri. Kendala-kendala yang dihadapi penulis, seperti yang disebutkan dalam artikel ini, adalah sebagai berikut:

TANTANGAN LOGISTIK

Buku Teks

Kendala yang pertama adalah mengenai buku teks. Tidak semua buku, khususnya buku teks geometri, menyediakan buku teks edisi Braille. Untuk mengatasi permasalahan ini, penulis menerapkan pembelajaran kooperatif. Siswa-siswa yang tidak mengalami keterbatasan penghilatan dan satu kelompok dengan siswa tuna netra, diminta untuk membaca materi dengan suara yang lantang, agar temannya yang tuna netra dapat mendengar dan mengetahui konsep dalam buku tersebut.

Penulisan Catatan dan Pemecahan Masalah (Problem Solving)

Pencatatan materi yang telah dibahas serta pengerjaan tugas dan problem solving diperlukan oleh semua siswa, termasuk siswa yang tuna netra, untuk lebih memahami konsep dari materi geometri. Untuk itu diperlukan juru ketik Braille untuk mempersiapkan itu semua untuk siswa yang tuna netra.

Teknologi dan Keterbatasannya

Komputer yang berbasis Braille sangat membantu dalam memfasilitasi siswa yang tuna netra. Akan tetapi terdapat keterbatasan pada komputer semacam ini. Pada komputer ini tidak dapat digunakan untuk melukis gambar-gambar geometris beserta unsur-unsurnya. Solusi dari permasalahan ini adalah dengan penggunaan paku bagi siswa tuna netra. Paku tersebut digunakan untuk memberikan benjolan/tanda pada kertas. Sehingga, paku tersebut dapat digunakan untuk melukis gambar geometri pada kertas berupa benjolan menyerupai gambar geometris.

Penulisan Simbol

Tidak seperti siswa pada umumnya, siswa yang memiliki keterbatasan penglihatan tidak dapat menuliskan simbol-simbol geometris. Siswa tuna netra tidak dapat menyingkat penulisan kalimat-kalimat geometris, seperti yang dapat dilakukan oleh siswa pada umunya. Keterbatasan ini menjadi tantangan yang sulit bagi siswa tuna netra dalam mempelajari geometri.

TANTANGAN KONTEKSTUAL

Salah satu tantangan dalam mengajarkan geometri kepada siswa yang memiliki keterbatasan penglihatan adalah bahwa siswa tersebut tidak memiliki konteks. Sebagai guru matematika, biasanya digunakan konteks-konteks untuk mengkaitkan konsep yang abstrak dari materi yang akan dibahas dengan contoh-contoh dalam kehidupan sehari-hari untuk membantu siswa dalam pemahaman materi tersebut. Hal inilah kelemahan siswa tuna netra dibandingkan dengan siswa normal.

Perspektif

Salah satu hal kontekstual yang sulit untuk dilakukan oleh siswa tuna netra adalah menggambar perspektif benda 3 dimensi menjadi bentuk 2 dimensi pada kertas. Misalkan pada tabung. Tabung adalah benda ruang yang memiliki alas berbentuk lingkaran. Akan tetapi pada penggambaran tabung pada kertas, alas tabung lebih menyerupai oval. Hal inilah yang perlu dijelaskan secara lebih khusus kepada siswa yang tuna netra.

Kubus dan Tabung

Rotasi Bangun Ruang

Keterbatasan terakhir yang dialami oleh siswa tuna netra adalah tentang menggambar garis pada koordinat Cartesius, kemudian menemukan luas dan keliling dari bangun yang dikelilingi oleh garis-garis tersebut. Hal ini dapat diatasi dengan penggunaan geoboard. Siswa tuna netra dapat menggambar garis dengan memanfaatkan karet gelang yang dihubungkan pada paku-paku geoboard.

Pada kebanyakan siswa, lebih-lebih siswa tuna netra, masih sering mengalami kesulitan dalam menggambarkan bangun ruang yang dibentuk dari rotasi bangun datar. Untuk mengatasi permasalahan ini, penggunaan alat peraga sangat membantu dalam pembelajaran geometri, tidak hanya kepada siswa tuna netra, tetapi juga kepada semua siswa.

Kesimpulan

Pemahaman geometri tidak hanya bergantung pada visualisasi gambar-gambar geometri dengan mata. Permasalahan geometri dapat digambarkan dengan berbagai macam cara; masalah tersebut dapat diucapkan, dibaca, digambar, dan dirasakan. Semua siswa dapat belajar; walaupun dengan cara yang berbeda

ppt pembelajaran materi perbandingan kelas VII

Berikut ini adalah presentasi powerpoint yang dapat digunakan dalam pembelajaran materi perbandingan kelas VII. Pada powerpoint ini disajikan materi dengan standar kompetensi, menggunakan bentuk aljabar, persamaan dan pertidaksamaan linear satu variabel, dan perbandingan dalam pemecahan masalah; serta kompetensi dasar, menggunakan perbandingan untuk pemecahan masalah.

Materi perbandingan pada powerpoint ini dibagi menjadi beberapa topik, yaitu:

  1. Pendahuluan
  2. Pengertian Skala
  3. Faktor Skala
  4. Pengertian Perbandingan Senilai
  5. Grafik Perbandingan Senilai
  6. Pengertian Perbandingan Berbalik Nilai
  7. Grafik Perbandingan Berbalik Nilai

Pada powerpoint ini juga terdapat beberapa contoh soal yang dikemas secara interaktif. Penyajian contoh soal dilakukan dengan menggunakan dialog-dialog interaktif dan menyenangkan. Selain itu, contoh soal yang disajikan berupa soal pemecahan soal dalam kehidupan sehari-hari. Untuk mendownload powerpoint ini, klik di sini. Untuk membuka powerpoint ini, direkomendasikan menggunakan Ms. PowerPoint 2010.

Pendekatan dan Metode Pendidikan Matematika

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Didalam proses belajar mengajar tercakup komponen,pendekatan,dan

berbagai metode pengajaran yang dikembangkan dalam proses tersebut.Tujuan

utama diselenggarakannya proses proses keberhasilan siswa dalam belajar dalam

rangka pndidikan baik dalam suatu mata pelajaran maupun pendidikan pada

umumnya.Jika guru terlibat didalamnya dengan segala macam metode yang

dikembangkan maka yang berperan sebagai pengajar berfungsi sebagai pemimpin

belajar atau fasilitator belajar ,sedangkan siswa berperan sebagai pelajar atau

individu yang belajar.usaha-usah guru dalam proses tersebut utamanya adalah

membelajarkan siswa agar tujuan khusus maupun umum proses belajar itu tercapai.

 

Usaha-usaha guru dalam mengatur dan menggunakan berbagai variable

pengajaran merupakan bagian penting dalam keberhasilan siswa mencapai tujuan

yang direncanakan.karena itu pemilihan metode,strategi dan pendekatan dalam

situasi kelas yang bersangkutan sangat penting.upaya pengembangan strategi

mengajar tersebut berlandas pada pengertian bahwa mengajar merupakan suatu

upaya memberikan bimbingan kepada siswa untuk melakukan kegatan belajar atau

dengan kata lain membelajarkan siswa seperti yang disebutkan diatas.

B. Masalah

1. Bagaimana dampak bagi pelajar dengan pendekatan deduktif dan indultif?

2. Bagaimana sebenarnya metode ceramah yang baik dan menyenangkan?

3. Apakah penggunaan metode penemuan dapat memudahkan siswa dalam

belajar matematika?

4. Bagaimana PAKEM dapat diterapkan dalam pembelajaran matematika ?

C.Tujuan

1. Untuk mengetahui apakah penggunaan metode penemuan dapat memudahkan.

siswa dalam pembelajaran matematika.

2. Untuk mengetahui apakah dampak bagi pelajar dengan pendekatan deduktif

dan induktif berhasil.

3. Untuk mengetahui cara metode ceramah yang baik dan menyenangkan.

4. Untuk mengetahui sejauh mana matode PAKAM di terapkan dalam

pembelajaran matematika.

http://www.aadesanjaya.blogspot.com

BAB II

PEMBAHASAN

Pendidikan merupakan sarana terpenuhinya proses belajar manusia. Tanpa

pendidikan manusia tidak mampu mengembangkan fitrahnya sebagai insan

pedagogik yang perlu didik dan mendidik. Namun, suatu pendidikan akan

mempunyai mutu yang tinggi apabila guru mempunyai mutu yang tinggi pula,

sedangkan mutu guru sangat ditentukan oleh pemahamannya tentang metode yang

diterapkan dalam pembelajaran materi matematika.

Pengembangan pendidikan matematika merupakan suatu proses penyusunan

pendidikan matematika itu sendiri. Proses ini dimulai dari pengembangan kebijakan

pendidikan matematika, prinsip-prinsip pengembangan, pendekatan dan model

pengembangan pendidikan matematika serta pengaturan pelaksanaan pendidikan

matematika. Dalam pembahasan ini, kami hanya akan membahas mengenai prinsip,

pendekatan, dan model pengembangan pendidikan matematika.

Dalam pengembangan pendidikan matematika didasarkan pada prinsip-prinsip

yang mengakomodir proses penyusunan pendidikan matematika atau

pengembangan pendidikan matematika itu sendiri. Dalam dunia pendidikan

pendidikan matematika sangatlah menentukan keberhasilan maupun

ketidakberhasilan suatu pendidikan, karena pendidikan matematika merupakan

acuan dasar dalam proses belajar mengajar. Sedangkan dalam pengembangan

pendidikan matematika tersebut harus didasari oleh prinsip-prinsip yang sesuai dan

seimbang.

Selain prinsip, pendekatan juga sangat penting dalam pengembangan

pendidikan matematika. Pendekatan menjadi bagian dari proses penyusunan

pendidikan matematika. Namun, pendekatan mana paling sesuai dan baik bukan

menjadi soal. Karena, dalam pengembangan pendidikan matematika pendekatan

tersebut disesuaikan dengan kondisi lingkungan sekolah. Pendekatan yang satu

dengan yang lainnya boleh jadi tidak sesuai diterapkan dalam pengembangan

pendidikan matematika di suatu sekolah. Namun, ia akan sangat diperlukan bila

diterapkan di sekolah lain.

Bersamaan dengan prinsip dan pendekatan, pendidikan matematika juga

memiliki model pengembangan yang diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan

nasional. Model pengembangan pendidikan matematika yang berlaku di Indonesia

http://www.aadesanjaya.blogspot.com

bersifat desentralisasi yang dikembangkan dari bawah yaitu dari pihak guru atau

sekolah. Guru atau sekolah dapat menilai model pengembangan pendidikan

matematika mana didasarkan pada pertimbangan bahwa guru adalah Perencana

maupun pelaksana daripada pendidikan matematika tersebut serta guru atau sekolah

yang dekat dan mengetahui kebutuhan proses kegiatan belajar mengajar

berlangsung.

Model-Model Pembelajaran

Metode Mengajar“Cara mengajar yg dpt digunakan untuk semua bahan

pelajaran”

Misalnya:

Metode: ceramah, penemuan, ekspositori, diskusi, tanya jawab, pemecahan

masalah, dsb. Teknik Mengajar“Cara mengajar yg memerlukan keahlian khusus

atau bakat khusus”

Beberapa model pembelajaran matematika antara lain :

1) Model pembelajaran dengan pendekatan induktif dan deduktif.

Kedua pendekatan ini merupakan pendekatan yang ditinjau dari interaksi

antara siswa dengan bahan ajar. Kedua pendekatan ini saling bertentangan.

Pendekatan deduktif merupakan suatu penalaran dari umum ke khusus, sedangkan

pendekatan induktif suatu penalaran dari khusus ke umum.

a. Pendekatan deduktif berdasarkan penalaran deduktif.

b. Penalaran deduktif = cara berpikir menarik kesimpulan dari hal yang umum

menjadi kasus yang khusus.

c. Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya menggunakan pola berpikir

silogisme; terdiri dari 2 macam pernyataan yang benar dan sebuah kesimpulan

(konklusi)

d. Kedua pernyataan pendukung silogisme disebut premis (hipotesis): Premis

Mayor dan Premis Minor.

e. Kesimpulan diperoleh sebagai hasil penalaran deduktif berdasarkan macam

premi itu.

DEFINISI

Kuadrat suatu bilangan adalah ialah bilangan yang diperoleh dengan mengalikan

Suatu bilangan dengan dirinya sendiri

Contoh

Kuadrat dari 4 adalah 42 = 4 x 4 = 16

http://www.aadesanjaya.blogspot.com

Kuadrat dari 5 adalah 52 = 5 x 5 = 25

Dalam pendekatan induktif penyajian bahan ajar dimulai dari contoh-contoh

kongkrit yang mudah dipahami siswa. Berdasarkan contoh-contoh tersebut siswa

dibimbing menyusun suatu kesimpulan. Menurut Purwanto (2002: 47), kebenaran

kesimpulan yang disusun secara indutif ini ditentukan tepat tidaknya (atau

representative tidaknya) contoh yang dipilih. Biasanya makin banyak contoh makin

besar pula tingkat kebenaran kesimpulannya.

a. Pengetahuan dapat diperoleh dengan akal atau percobaan, Untuk mendapatkan

pengetahuan dengan akal digunakan pendekatan deduktif, Untuk mendapatkan

pengetahuan dengan percobaan digunakan pendekatan induktif, Pada

hakikatnya, matematika merupakan suatu ilmu yang didasarkan atas akal

(rasio) yg berhubungan dengan benda-benda pikiran yang abstrak

b. Karena matematika adalah ilmu deduktif, seharusnya mengajarkannya

menggunakan pendekatan deduktif pula.

c. Pendekatan deduktif dilakukan dalam program pengajaran matematika

tradisional, sebelum program pengajaran matematika modern yang sekarang

banyak digunakan.

d. Pada era sekarang pengajaran matematika banyak digunakan macam-macam

pendekatan, tetapi pendekatan itu merupakan pula pendekatan deduktif dan

induktif

Contoh :

4 │ 8 arttinya 4 adalah pembagi 8

Karena ada bilangan bulat 2 sehingga

8 = 2 x 4

6 │ 36 arttinya 6 adalah pembagi 36

Karena ada bilangan bulat 6 sehingga

36 = 6 x 6

Dari kedua contoh di atas, KESIMPULANNYA

Suatu bilangan bulat a dikatakan membagi bilangan bulat b atau a │ b

Jika dan hanya jika ada bilangan bulat K sehingga b = K .a

http://www.aadesanjaya.blogspot.com

2). Metode Ceramah yang Menyenangkan

Metode ceramah yang monoton, memanglah dirasakan sangat membosankan

bagi para peserta didiknya, apalagi bila disajikan dalam bentuk dongeng, yang

berfungsi sebagai pengantar siswanya untuk tidur di malam yang hening, bahkan

kadang kala si pengajar melenceng dari materi yang semestinya disampaikan, justru

ia malah menceritakan tentang keadaan keluarganya, sampai ke para tetangganya,

seolah-olah si guru itu curhat kepada muridnya. Hal ini serupoa dengan sebuah situs

dari internet yang menceritakan

Ini adalah contoh nyata dari bumi belahan lain di dunia pendidikan, oleh

karena itu kita sebagai calon guru masa depan yang baik, haruslah mempersiapkan

segala sesuatunya, baik itu dari segi disiplin ilmu, pemahaman segala konsep dan

teknik segala keterampilan, hubungan sosial terhadap lingkungan, serta akhlak dari

personal kita sendiri, karena bukanlah tidak mungkin, kisah dosen tadi terjadi pada

diri kita, menjadi seorang pengajar yang membosankan, tidak menarik, bahkan

sampai dijuluki ‘monster’ oleh anak didik kita sendiri.

3). Model pembelajaran dengan pendekatan ekspositori

Pendekatan ekspositori merupakan suatu pendekatan yang ditinjau dari

interaksi guru dengan siswa. Dalam pendekatan ini semata-mata siswa tinggal

menerima apa yang disajikan oleh guru. Jadi guru telah mempersiapkan dan

merencanakan secara sistimatis sehingga siswa dapat menerimanya dengan mudah.

Untuk itu dalam proses pembelajaran guru perlu melakukan apersepsi, yaitu

mengingatkan kembali pengetahuan yang berkaitan dengan bahan ajar yang akan

disajikan. Dalam pembelajaran ini guru menjelaskan panjang lebar, jika perlu guru

membuat gambar maupun menggunakan media yang dianggap dapat lebih

mempermudah siswa memahami bahan ajar yang disampaikan.

4) Model pembelajaran dengan Pendekatan Proses

Dalam pendekatan ini guru menciptakan kegiatan pembelajaran yang

bervariasi sedemikian sehingga siswa terlibat secara aktif dalam berbagai

pengalaman. Atas bimbingan guru siswa diminta untuk merencanakan,

http://www.aadesanjaya.blogspot.com

melaksanakan, dan menilai sendiri suatu kegiatan. Menurut Sagala (2003), dalam

pendekatan proses ini yang dapat dilakukan siswa antara lain: mengamati gejala

yang timbul, mengklasifikasikan, mengukur besaran-besarannya, mencari hubungan

konsep konsep yang ada, mengenal adanya masalah, merumuskan masalah,

merumuskan hipotesa, melakukan percobaan, menganalisis data dan

menyimpulkan.Dalam pembelajaran PKn tidak semua aktifitas seperti tersebut

diatas dilaksanakan.

Macam-macam strategi pembelajaran matematika antara lain :

a). interaksi di dalam kelas

Pada hakekatnya belajar matematika adalah berfikir dan berbuat atau

mengerjakan matematika.Di sinilah makna dari strategi pembelajaran matematika

adalah strategi pembelajaran aktif,yang di tandai oleh dua factor.

a. interaksi antara seluruh komponen dalam proses belajar mengajar, diantaranya

antara dua komponen utama yaitu guru dan siswa

b. berfungsinya secara optimal yang meliputi indra , emosi, karsa, karya, dan

nalar. Hal itu dapat berlangsung antara lain jika proses itu melibatkan aspek

visual, audio, maupun teks ( Anderson, 1981 ).

Pembelajran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan

Untuk memperoleh hasil belajar ,salah satu pendekatan umum yang dapat

digunakan adalah pendekatan PAKEM ( Pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif,

dan menyenagkan). Secara ringkas PAKEM dapat diungkapkan sebagai berikut :

b). Dari segi guru

A = Aktif , guru aktif :

  • • Memantau kegiatan belajar siswa
  • • Memberi umpan balik
  • • Mengajukan pertanyaan yang menantang
  • • Mempertanyakan gagasan siswa

K = kreatif, guru :

  • • Mengembangkan kegiatan yang beragam
  • • Membuat alat Bantu belajar sederhana

E = Efektif, pembelajaran :

  • • Mencapai tujuan pembelajaran

M = Menyenagkan , pembelajaran :

http://www.aadesanjaya.blogspot.com

  • • Tidak membuat anak takut

- takut salah

- takut ditertawakan

- takut dianggap sepele

c). Dari segi siswa

A = Aktif , siswa aktif :

  • • Bertanya
  • • Mengemukan gagasan
  • • Mempertanyakan gagasan orang lain dan gagasannya.

K = kreatif, siswa :

  • • Merancang atau membuat sesuatu
  • • Menulis atau mengarang

E = Efektif, siswa :

  • • Menguasai keterampilan yang di perlukan

M = Menyenagkan pembelajaran membuat siswa :

  • • Berani mencoba / berbuat
  • • Barani bertanya
  • • Berani mengemukan pendapat
  • • Berani mempertanyakan gagasan orang lain

d). Beberapa teknik penyajian bahan ajar matematika

Peningkatan optimalisasinya komunikasi antara lain dipengaruhi oleh

kemampuan guru dalam menguasai berbagai teknik dalm pembelajaran yang

menyatu dalam setiap metode. Berikut ini diuraikan beberapa teknik untuk

meningkatkan efektiftifitas pembelajaran.

e). Teknik menjelaskan

Menjelaskan merupakan salah satu bagian penting dalam proses kegiatan

belajar mengajar . karena itu tekni ini sangat perlu dikuasai guru, namun dengan

guru senantiasa membatasi diri agar tidak terjebak ceramah murni yang

menghilangkan peranan siswa kecuali hanya mendengarkan atau bahkan hanya

mendengar yang di kemukakan guru. Beberapa hal yang penting adalah :

1) Gunakan bahasa yang sederhana, jelas, dan mudah dimengerti serta

komunikatif

http://www.aadesanjaya.blogspot.com

2) Ucapan hendaknya terdengar dengan jelas, lengkap, tertentu, dan

dengan intonasi yang tepat

3) Bahan disiapkan dengan sistematis mengarah ke tujuan

4) Penampilan hendaknya menarik, diselingi, dengan gerak dan humor

sehat

5) Adakan variasi atau selingan dengan metode lain, misalnya Tanya

jawab, menggunakan alat Bantu seperti lembar peraga (chart)

f). Teknik bertanya

Ada pepetah dalam pembelajaran : “ Questioning is the heart of the teaching”,

artinya pertanyaan adalah jantungnya pengajaran. Kalu demikian, ppengajaran tanpa

bertanya, adalah pengajaran yang gersang. Untuk menggunakan Tanya jawab, perlu

tujuan mengajukan pertanyaan, jenis dan tingkat pertanyaan, serta teknik

mengajukanpertanyaan.

Tujuan mengajukan pertanyaan antara lain untuk :

1) Memotivasi siswa

2) Menyegarkan apresiaisi siswa

3) Memulai diskusi

4) Mendorong siswa agar berfikir

5) Mengarahkan perhatian siswa

6) Meggalakkan penyelidikan

7) Mendiagnosis / memeriksa tanggapan siswa

8) Menarik perhatian siswa

9) Mengundang pertanyaan siswa

5. Model Pembelajaran Penemuan Terbimbing

Dalam menggunakan metode penemuan terbimbing, peranan guru adalah:

menyatakan persoalan, kemudian membimbing siswa untuk menemukan

penyelesaian dari persoalan itu dengan perintah-perintah atau dengan lembar kerja.

Siswa mengikuti pertunjuk dan menemukan sendiri penyelesaiannya.

Penemuan terbimbing biasanya dilakukan dengan bahan yang dikembangkan

pembelajarannya secara induktif. Guru harus yakin benar bahwa bahan “yang

ditemukan” sungguh secara matematis dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Seringkali peranan guru dalam penemuan terbimbing diungkapkan dalam

http://www.aadesanjaya.blogspot.com

lembar kerja penemuan terbimbing. Lembar kerja ini biasanya digunakan dalam

memberikan bimbingan kepada siswa menemukan konsep atau terutama prinsip

(rumus, sifat). Penyusunan lembar kerja jenis ini biasanya

diawali dari guru menyiapkan secara lengkap tahap demi tahap dalam menjelaskan

adanya suatu sifat atau prinsip atau rumus.

Penjelasan ini dituang dalam suatu tulisan secara lengkap. Kemudian

dipikirkan, jika penjelasan itu dilakukan di kelas, dan dilakukan dengan tanya jawab,

dicatat di bagian manakah yang kiranya perlu digunakan sebagai bahan tanya jawab.

Bagian yang ditanyakan ini dapat berupa pendapat siswa tentang bahan yang lalu

yang perlu digunakan dalam pengembangan konsep,atau pendapat siswa tentang

tahapan yang perlu dipertimbangkan dalam melangkah, atau isian yang berupa

bilangan atau kata kunci dalam menuju tujuan penemuan tersebut. Bagian-bagian

yang perlu ditanyakan tadilah yang perlu dihapus dari catatan penjelasan lengkap, dan

dalam lembar kerja diungkapkan dalam bentuk tempat kosong atau titik-titik yang

harus diisi oleh siswa

Strategi Dan Pendekatan Dalam Model Investigasi

Flenor (1974) membagi kegiatan guru menjadi 5 (lima) tahap:

1) Apersepsi,

2) Investigasi,

3) Diskusi,

4) Penerapan, dan

5) Pengayaan.

Pada investigasi, siswa bekerja secara bebas, individual atau berkelompok.

Guru hanya bertindak sebagai motivator dan fasilitator yang memberikan dorongan

siswa untuk dapat mengungkapkan pendapat atau menuangkan pemikiran mereka

serta menggunakan pengetahuan awal mereka dalam memahami situasi baru. Guru

juga berperan dalam mendorong siswa untuk dapat memperbaiki hasil mereka sendiri

maupun hasil kerja kelompoknya.

Kadang mereka memang memerlukan orang lain, termasuk guru untuk dapat

menggali pengetahuan yang diperlukan, misalnya melalui pengembangan pertanyaanpertanyaan

yang lebih terarah, detail atau rinci. Dengan demikian guru harus selalu

menjaga suasana agar investigasi tidak berhenti di tengah jalan. Dalam hal investigasi

yang dilaksanakan secara berkelompok, Lazarowitz dan kawan-kawannya (1988) dan

juga Sharan dan para koleganya (Sharan et al, 1989; Sharan & Sharan, 1990)

http://www.aadesanjaya.blogspot.com

mendisain model kelompok investigasi yang memberikan kemungkinan siswa untuk

melakukan berbagai pengalaman belajar.

Para siswa terlibat dalam setiap tahap kegiatan

a. mengidentifikasi topik dan mengorganisasi kelompoknya dalam

“kelomp[ok peneliti”,

b. merencanakan tugas pembelajaran,

c. melaksanakan penyelidikan,

d. menyiapkan laporan,

e. menyampaikan laporan akhir,

f. mengevaluasi program.

Diskusi kelompok maupun diskusi kelas merupakan hal yang sangat penting

guna

memberikan pengalaman mengemukakan dan menjelaskan segala hal yang mereka

pikirkan dan membuka diri terhadap yang dipikirkan oleh teman mereka. Pengalaman

yang baik seperti ini akan memotivasi siswa untuk belajar dan mau menyelidiki

(menginvestigasi) lebih lanjut. Pengalaman bekerjasama dalam banyak hal sangat

sesuai dengan semangat gotong royong yang telah berkembang sejak lama di bumi

tercinta Indonesia ini. Hal ini perlu selalu dikembangkan dengan melatihkannya

kepada para siswa.

Dalam kerja kelompok siswa, Malone dan Krismanto (1993) menemukan

bahwa sebagian besar siswa menginginkan mereka sendirilah yang menentukan

anggota kelompok kegiatan, dengan banyak anggota 3 − 5 orang siswa campuran

putra dan putri dan dengan berbagai tingkat kemampuan siswa.

Hal ini sesuai dengan Sharan (1980) bahwa kelompok semacam itu memberikan

efektifitas dalam peningkatan hasil belajar siswa.

Sikap dan kemauan siswa dalam menggunakan pendekatan investigasi tidak

terlepas dari kegemaran siswa akan matematika, pemahaman siswa tentang kegunaan

matematika dan keberanian siswa untuk membentuk sendiri pengetahuan matematika

mereka. Ini sesuai dengan paham yang dikembangkan oleh para pakar dan peneliti

serta penganut konstruktivisme. Karena ituseberapa jauh keberhasilan penggunaan

pendekatan investigasi juga antara lain tergantung ketiga faktor. Karena itu maka guru

juga perlu mengetahui seberapa jauh hal di atas dimiliki siswa disamping berusaha

untuk lebih memberikan pemahaman kepada para siswa.

http://www.aadesanjaya.blogspot.com

Bab III

PENUTUP

1. Metode mengajar yang bervariasi perlu dimiliki oleh pendidik dan

dipraktikkan pada saat mengajar.

2. Pengajaran dengan metode yang efektif dan menyenangkan, akan

menghasilkan tujuan pembelajaran yang optimal.

3. pendekatan PAKEM ( pembelajaran kreatif efektif dan menyenagnkan ) salah

satu pendekatan umum yang digunakan untuk memperoleh haisil belajar yang

maksimal. Karena belajar sama artinya dengan proses aktif membangun

makna / pemahaman dari informasi dan pengalaman oleh si pembelajar. Pada

saat manusia dilahirkan sebenarnya telah ada dua modal kreatifitas yang

dimiliki yatiu rasa ingin tahu dan imajinasi.

4. Kedua pendekatan ini merupakan pendekatan yang ditinjau dari interaksi

antara siswa dengan bahan ajar. Kedua pendekatan ini saling bertentangan.

Pendekatan deduktif merupakan suatu penalaran dari umum ke khusus,

Sedangkan pendekatan induktif suatu penalaran dari khusus ke umum.

Dalam pendekatan induktif penyajian bahan ajar dimulai dari contoh-contoh

kongkrit yang mudah dipahami siswa. Berdasarkan contoh-contoh tersebut

siswa dibimbing menyusun suatu kesimpulan. kebenaran kesimpulan yang

disusun secara indutif ini ditentukan tepat tidaknya (atau representative

tidaknya) contoh yang dipilih. Biasanya makin banyak contoh makin besar

pula tingkat kebenaran kesimpulannya.

“Using Tiered Explorations to Promote Reasoning”

Artikel dengan judul “Using Tiered Explorations to Promote Reasoning” ini ditulis oleh Cory A. Benett, seorang asisten profesor pendidikan matematika di Idaho State University, Pocatello dan seorang guru yang tersertifikasi ketika masa mudanya. Secara garis besar, artikel ini membahas tentang CSMI, mengapa CSMI, dan bagaimana implementasinya di kelas.

Garis Besar CSMI

CSMI kependekan dari Crime Scene for Mathematics Investigation, merupakan proses pembelajaran kooperatif yang membiarkan siswa memilih sendiri strategi dalam bereksplorasi secara matematis berdasarkan pemahaman dan kesediaan mereka masing-masing. Pada intinya, siswa memilih sendiri rekan kelompoknya untuk membahas topik tertentu, sehingga diciptakan suatu diskusi kelompok yang saling mendukung antar anggota kelompok untuk memecahkan suatu permasalahan.

Detectives

Sesuai kepanjangannya, CSMI mengadopsi proses pemecahan masalah yang dilakukan oleh para detektif atau polisi. Ada 3 bagian pada proses pembelajaran ini, yaitu Yellow Tape, Detectives, dan Forensics. Berikut ini penjelasan mengenai bagian-bagian CSMI tersebut.

Bagian Yellow Tape merupakan bagian dasar dalam memecahkan permasalahan.
Bagian Detectives fokus pada permasalahan yang lebih rumit.
Bagian Forensics melibatkan permasalahan yang kompleks, yang sering membutuhkan kombinasi dari beberapa kemampuan matematika dalam memecahkan suatu permasalahan.

Kesemua bagian ini diberikan kepada siswa dalam satu topik, misalkan topik teorema Pythagoras seperti berikut ini.

Yellow Tape
Mengawali perjalanan dari suatu pelabuhan, sebuah kapal berlayar ke barat sejauh 4 mil, kemudian berlayar ke selatan sejauh 9 mil, dan kemudian berlayar ke barat sejauh 10 mil. Berapa jauhkah kapal tersebut dari pelabuhan setelah menempuh perjalanan tersebut?

Detectives
Seekor lalat hinggap di pojok kotak gula yang berbentuk kubus. Volume kotak tersebut adalah 1 inci kubik. Apabila lalat tersebut berjalan ke pojok kotak yang berlawanan, lintasan apakah yang mungkin dilalui oleh lalat tersebut? Dari lintasan-lintasan yang mungkin tersebut, berapakah panjang lintasan terpendek yang dilalui lalat?

Kotak Gula

Forensics
Sebilah pisau digunakan untuk memotong bagian atas buah jeruk yang berbentuk bola, 4 cm dari tengah buah jeruk tersebut. Jeruk tersebut memiliki jari-jari 5 cm. Berapakah luas dari daerah lingkaran yang diakibatkan oleh potongan pisau tersebut?

Buah Jeruk

Ketiga contoh permasalah pada tiap bagian dari CSMI di atas menunjukkan tiga macam permasalahan teorema Pythagoras. Dari ketiga bagian CSMI tersebut, siswa diminta untuk:

Memilih bagian yang paling sesuai dengan kesiapan masing-masing siswa.
Bertanggung jawab satu sama lain.

Pilihan Siswa

Masa remaja merupakan periode perkembangan dasar siswa dari sisi sosial, emosi, dan kognitif dalam mencari kesempatan untuk lebih mandiri. Memperkenankan siswa untuk memilih pengalaman belajarnya sendiri merupakan salah satu cara untuk memberikan kesempatan tersebut. Pilihan merupakan hal penting dalam membantu siswa untuk menjadi matematikawan yang terampil dan kompeten karena siswa akan semakin termotivasi, semakin aktif dan terlibat dalam pembelajaran.

Pemberian pilihan tersebut akan megakibatkan pembelajaran lebih aktif. Menjadi rahasia umum bahwa kemampuan siswa merupakan hal yang beragam. Sehingga ada siswa yang memilih bagian 1, bagian 2, atau bagian 3. Apabila siswa tersebut mengalami kesulitan dalam diskusi kelompok yang membahas suatu bagian tertentu, siswa dapat berpindah ke kelompok yang membahas bagian yang lebih mudah. Sebaliknya, apabila siswa sudah selesai dalam memecahkan masalah pada bagian tertentu, ia dapat berpindah ke kelompok yang membahas permasalahan yang lebih kompleks pada bagian berikutnya.

Tanggung Jawab Siswa

Matematika merupakan usaha sosial. Siswa dalam kelompok dapat saling berpendapat dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi. Pendapat ini bisa berupa solusi, penyanggahan, ataupun penguatan dari pendapat temannya. Mereka dapat saling percaya kepada teman kelompoknya. Pendapat tersebut dapat dicontohkan pada diskusi siswa berikut.

The radius of the slice can’t be 5 because then it would be the size circle as the other one.

Kemudian, satu siswa lain berpendapat seperti berikut.

I know. What if we just think of it as plain circle and not a sphere? Couldn’t we just make this part be the hypotenuse?

Pada diskusi tersebut, seorang siswa memberikan pendapat/ide yang sangat penting. Jari-jari dari lingkaran merupakan sisi miring dari segitiga siku-siku, dengan jarak antar lingkaran merupakan salah satu sisi segitiga. Sedangkan sisi lain merupakan jari-jari dari lingkaran yang panjangnya akan dicari. Sehingga apabila jari-jari dapat ditentukan, maka luas dari lingkaran akibat potongan pisau dapat ditentukan.

Jawaban Siswa

Prosedur CSMI

Walaupun CSMI mungkin bisa berbeda antara kelas yang satu dengan yang lain, empat prosedur dasar dalam implementasi CSMI adalah sebagai berikut.

Mengidentifikasi tujuan pembelajaran.
Memilih permasalahan yang akan diberikan pada siswa.
Memuncukan petunjuk pembelajaran.
Menyesuaikan instruksi.

‘Manifesto: The Five Theses of the Power of a Presentation.‘

Buku dengan judul slide:ology yang dikarang oleh Nancy Duarte merupakan buku yang bagus bagi Anda yang sering melakukan presentasi. Dalam buku ini membahas segala sesuatu mengenai pembuatan presentasi yang luar biasa. Salah satu bab dalam buku ini yang menarik adalah pada bab 12, yaitu ‘Manifesto: The Five Theses of the Power of a Presentation.

Dalam bab 12 ini, ada 5 hal yang perlu Anda lakukan untuk membuat presentasi Anda memiliki power. Hal tersebut juga berlaku jika Anda adalah seorang guru yang akan memberikan pembelajaran dengan menggunakan media presentasi kepada siswa Anda. Kelima hal tersebut dijelaskan sebagai berikut:

  1. Treat Your Audience As King (Perlakukan Siswa Anda Seperti Raja)
    Siswa datang ke presentasi Anda tidak untuk melihat Anda, melainkan mereka mencari tahu apa yang dapat Anda lakukan untuk mereka. Presentasi Anda sukses apabila Anda dapat memberikan alasan kenapa mereka harus menyediakan waktu untuk datang ke presentasi Anda, dengan menyediakan konten presentasi yang beresonansi, dan dapat memastikan dengan jelas apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.
  2. Spread Ideas and Move People (Sebarkan Ide dan Gerakkan Audiens Anda) Menciptakan ide-ide besar adalah apa yang akan Anda lakukan; tetapi membuat orang mempercayai, menggunakan, dan merasa memiliki kepentingan terhadap ide kita adalah bagian yang tersulit. Komunikasikan ide/konsep yang akan Anda ajarkan dengan menggunakan bahasa visual yang kuat agar dapat ditangkap oleh semua indera siswa, dan dengan sendirinya mereka akan mengadopsi ide mereka sendiri.
  3. Help Them See What You’re Saying (Bantu Siswa Anda untuk Melihat Apa yang Anda Katakan)
    Pengalaman luar biasa dari siswa datang karena adanya kejelasan. Bantulah siswa Anda mengerti dan memahami apa yang Anda bicarakan dengan menggunakan visualisasi yang mendukung.
  4. Practice Design, Not Decoration (Desain Presentasi Anda, Bukan Mendekorasinya)
    Jangan hanya memberikan poin-poin dari presentasi Anda, melainkan desainlah informasi Anda agar sekompleks apapun informasi Anda, siswa dapat menangkap informasi Anda.
  5. Cultivate Healthy Relationships (Jalinlah Hubungan yang Baik)
    Sebuah hubungan yang bermakna antara Anda, slide Anda, dan siswa akan menciptakan sebuah hubungan yang baik antara konten presentasi dengan siswa. Sehingga buatlah informasi yang dekat dengan keseharian siswa.

deret geometri

Setiap bilangan yang dijumlahkan selalu merupakan hasil perkalian antara bilangan sebelumnya dengan suatu bilangan yang tetap, yang disebut rasio. Penjumlahan bilangan-bilangan inilah yang disebut deret geometri. Pada berbagai macam deret geometri, ada suatu deret geometri yang memiliki suku-suku yang tak hingga banyaknya, tetapi jumlahnya mendekati nilai tertentu. Deret yang seperti itu disebut deret geometri tak terhingga. Deret geometri tak terhingga tersebut memiliki rasio di antara 0 dan 1. Bagaimana cara menentukan nilai dari deret geometri tak terhingga tersebut?

Dalam menemukan limit dari deret geometri tak terhingga dapat dilakukan dengan menggunakan alat peraga. Alat peraga ini terdiri dari puzzle dan bingkainya. Perhatikan gambar berikut.

Alat Peraga Deret Geometri Tak Terhingga

Puzzle dari alat peraga tersebut terdiri dari segitiga dan beberapa trapesium yang memiliki sepasang sisi siku-siku yang sama panjang. Sehingga trapesium-trapesium tersebut merupakan trapesium-trapesium yang sebangun. Untuk membuat alat peraga ini harus memenuhi syarat-syarat tersebut.

Alat Peraga Deret Geometri Tak Terhingga 2

Penggunaan Alat Peraga

Bagaimana cara menggunakan alat peraga tersebut? Simak penjelasannya untuk menggunakan alat peraga tersebut.

  1. Letakkan kepingan-kepingan puzzle, yaitu satu segitiga kuning, tiga trapesium merah, dan tiga trapesium hijau ke dalam bingkai puzzle seperti gambar di atas.
  2. Setelah puzzle terbentuk, trapesium-trapesium tersebut akan membentuk segitiga siku-siku besar. Apakah segitiga besar ini sebangun dengan segitiga kuning?
  3. Segitiga kecil (warna kuning) sebangun dengan segitiga besar, sehingga perbandingan sisi-sisi yang bersesuaian dari kedua segitiga tersebut sama.
    Rumus Deret Geometri 1
  4. Sehingga diperoleh rumus deret geometri dengan suku pertama 1 dan rasio r untuk 0 < r < 1 adalah,
    Rumus Deret Geometri 2
  5. Untuk mendapatkan rumus deret geometri dengan suku pertama a dan rasio r untuk 0 < r < 1, kalikan kedua ruas pada persamaan 4 dengan a.
    Rumus Deret Geometri 3

Apabila Anda ingin membuat alat peraga tersebut, kami sediakan gambar panduannya.

Alat peraga di atas berfungsi untuk membantu siswa untuk berpikir dengan menggunakan objek konkrit. Dengan demikian, diharapkan konsep deret geometri akan lebih mudah dipahami

tabung dan kerucut

rumus untuk mencari volume prisma dan tabung. Akan tetapi banyak objek di dunia ini yang tidak berbentuk prisma ataupun tabung, misalnya gunung dan piramida di Mesir. Bagaimana bentuk kedua objek tersebut? Bagaimana cara kita menemukan volume dari objek-objek yang berbentuk seperti itu?

Gunung Fuji dan Piramida Mesir

Gunung yang mungkin banyak kita jumpai di daerah kita, bisa kita kategorikan sebagai objek yang berbentuk kerucut. Sedangkan piramida di Mesir, merupakan objek yang berbentuk limas segi empat. Terdapat hubungan yang sederhana antara volume prisma dengan volume limas yang memiliki alas dan tinggi yang kongruen, demikian juga antara volume tabung dengan volume kerucut yang memiliki alas dan tinggi yang kongruen. Untuk menemukan hubungan ini, mari kita cari tahu melalui investigasi berikut.

Investigasi: Menemukan Rumus Volume Limas dan Kerucut

Dalam melakukan investigasi ini, kalian akan menggunakan sepasang wadah yang berbentuk prisma dan limas, sepasang wadah yang berbentuk tabung dan kerucut, serta air. Siapkan benda-benda tersebut, kemudian lakukan langkah-langkah berikut:

  1. Pilihlah prisma dan limas yang memiliki alas dan tinggi yang kongruen.
  2. Isilah limas tersebut dengan air hingga penuh, kemudian tuangkan air tersebut ke dalam prisma hingga tanpa sisa. Berapa bagiankah air tersebut mengisi prisma tersebut?
  3. Cek jawabanmu dengan mengulangi langkah ke-2 hingga prisma penuh terisi air.

Pilihlah tabung dan kerucut yang memiliki alas dan tinggi yang kongruen kemudian ulangi langkah ke-2 dan ke-3.

Volume Kerucut

Apa yang dapat kamu simpulkan dari investigasi di atas? Bagaimana hubungkan antara volume prisma dengan limas, dan volume tabung dengan volume kerucut? Setelah kita lakukan investigasi di atas, ternyata kita temukan bahwa volume prisma sama dengan tiga kali volume limas. Atau dengan kata lain volume limas sama dengan sepertiga dari volume prisma. Hubungan ini juga berlaku untuk kerucut dan tabung. Karena rumus volume prisma dan tabung adalah V = At, untuk A luas alas dan t tinggi prisma atau tabung, maka volume dari limas dan kerucut dapat dirumuskan sebagai berikut.

Rumus Volume Limas dan Kerucut
Jika A dan t secara berturut-turut adalah luas alas dan tinggi dari limas atau kerucut, maka volume dari limas atau kerucut tersebut adalah V = 1/3 ∙ A ∙ t.

Sehingga, untuk mencari volume dari limas atau kerucut, pertama-tama kita harus menentukan luas dari alasnya. Setelah itu kalikan luas alas tersebut dengan sepertiga dan tinggi dari limas atau kerucut tersebut. Untuk lebih memahami mengenai volume limas dan kerucut, perhatikan contoh soal berikut.

Contoh Soal

Tentukanlah volume dari masing-masing bangun ruang berikut. Semua satuan ukuran yang digunakan adalah cm.

Contoh Soal Limas dan Kerucut

Gambar (i) adalah kerucut, gambar (ii) adalah limas persegi, sedangkan gambar (iii) adalah tabung yang dipotong oleh kerucut.

Pembahasan Contoh Soal

Volume dari kerucut yang memiliki jari-jari alas 9 cm dan tinggi 16 cm dapat ditentukan sebagai berikut.

V = 1/3 ∙ At = 1/3 ∙ π ∙ r2t = 1/3 ∙ π ∙ 92 ∙ 16 = 432π

Sehingga, volume dari kerucut di atas adalah 432π cm2. Volume dari limas persegi yang memiliki sisi alas 8 cm dan tingginya 21 cm dapat dicari sebagai berikut.

V = 1/3 ∙ At = 1/3 ∙ 82 ∙ 21 = 448

Sehingga, volume dari limas persegi tersebut adalah 448 cm2. Sedangkan volume tabung yang dipotong oleh kerucut dengan diameter 18 cm dan tinggi 35 cm dapat dicari seperti berikut.

V = At – 1/3 ∙ At = 2/3 ∙ At = 2/3 ∙ (1/4 ∙ π ∙ d2) ∙ t = 2/3 ∙ (1/4 ∙ π ∙ 182) ∙ 35 = 1.890π

Jadi, volume dari tabung yang dipotong oleh kerucut di atas adalah 1.890π cm2. Semoga bermanfaat.

Pendidikan Matematika di SMP

Bab I
Pendahuluan
A.    Latar Belakang
Mata pelajaran Matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali mereka dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif serta kemampuan bekerja sama. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak  pasti dan kompetitif.
Standar kompetensi dan kompetensi dasar matematika dalam dokumen ini disusun sebagai landasan pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan tersebut di atas. Selain itu di maksudkan pula untuk mengembangkan kemampuan menggunakan matematika dalam pemecahan masalah dan mengkomunikasikan ide atau gagasan dengan menggunakan simbol, tabel, diagram, dan media lain.
 Salah satu materi matematika yang diajarkan di Kelas VII SMP adalah materi Aritmetika Sosial. Adapun pertimbangan yang dijadikan dasar dipilihnya materi tersebut sebagai materi yang disusun oleh penulis adalah:
1.      berdasarkan hasil diskusi dengan beberapa orang mahasiswa FKIP dan guru matematika diperoleh informasi bahwa materi Aritmetika Sosial masih merupakan materi yang agak sulit dipahami oleh siswa,
2.      banyak permasalahan dalam kehidupan sehari-hari yang terkait dengan materi ini,
Pendekatan pemecahan masalah merupakan fokus dalam pembelajaran matematika yang mencakup masalah tertutup dengan solusi tunggal, masalah terbuka dengan solusi tidak tunggal, dan masalah dengan berbagai cara penyelesaian. Untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah perlu di kembangkan keterampilan memahami masalah, membuat model matematika, menyelesaikan masalah, dan menafsirkan solusinya.
Dalam setiap kesempatan, pembelajaran matematika hendaknya di mulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (contextual problem). Dengan mengajukan masalah kontekstual, peserta didik secara bertahap di bimbing untuk menguasai konsep matematika. Untuk meningkatkan keefektifan pembelajaran, sekolah di harapkan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi seperti komputer, alat peraga, atau media lainnya.
Salah satu cara yang baik untuk mengidentifikasi kesulitan belajar siswa adalah dengan melakukan wawancara dengan siswa.  Cara ini memerlukan waktu panjang, apalagi jika siswanya banyak. Untuk dapat menerjemahkan, memahami, merencanakan, dan menyelesaikan masalah yaitu dengan strategi two tier multiple choice items. Prosedur penyusunan sebagai berikut:
1.      Mengidentifikasi
2.      Mengembangkan peta konsep
a)      Diagnosis Kesulitan Belajar Matematika di SMP
1.      Faktor Sosial
Ilmu yang mengkaji tentang kemasyarakatan yang menjadi objek kajian ilmu-ilmu sosial dapat di lihat sebagai sesuatu yang terdiri atas berbagai segi.
Misalnya Hubungan Orang Tua dan anak, dan tingkat kepedulian orang tua tentang masalah belajarnya di sekolah merupakan faktor yang dapat memberikan kemudahan, atau sebaliknya menjadi faktor kendala bahkan menambah kesulitan siswa. Termasuk dapat meberikan kemudahan antara lain: kasih sayang, pengertian, dan perhatian ataupun kepedulian misalnya menyertai anaknya belajar, dan tersedianya tempat belajar yang kondusif. Disamping itu ekonomipun merupakan faktor, baik postif maupun negatif. Siswa yang mengalami masalah sosial dirumahnya biasanya dari kalangan keluarga yang kurang menaruh perhatian pada perkembangan anaknya. Hal ini mungkin akibat dari kepedulian yang rendah terhadap belajar anak / siswa. Permasalahan tersebut dapat terjadi baik dari kalangan yang ekonominya sudah mapan maupun ekonominya masih lemah. Faktor sosial di dalam dan di luar kelas dalam lingkungan sekolah juga berpengaruh terhadap kelancaran atau kesulitan belajar siswa. Siswa yang kurang dapat bergaul atau menyesuaikan dengan situasi kelas oleh berbagai sebab yang menyebabkan ia merasa terpencil, terhina atau senantiasa menjadi bahan ejekan atau olokan merupakan faktor penghambat, meskipun bagi sebagian siswa yang biasa mengatasi masalah hal itu dapat digunakan sebagai pemacu untuk menunjukkan eksistensinya.
2.      Faktor Emosional Siswa
Faktor emosional siswa yang sering gagal dalam Matematika lebih mudah berpikir tidak rasional, takut,cemas,benci pada matematika. Jika demikian maka hambatan itu dapat melekat pada diri anak atau siswa. Masalah siswa yang termasuk dalam faktor emosional dapat disebabkan oleh :
1.      Obat-obatan tertentu, seperti obat penenang, ekstansi, dan obat lainnya yang sejenis.
2.      Kurang Tidur.
3.      Diet yang tidak tepat.
4.      Hubungan yang renggang dengan teman terdekat.
5.      Masalah tekanan dari situasi keluarganya di rumah.
Menurut Cooney dkk menyatakan bahwa siswa yang megkonsumsi pil ekstasi kemalasanya naik luar biasa, terkadang menunjukan perbuatan yang tidak rasional, depresi, tidak sadar (collapse) atau sebaliknya tertawa sendiri. Dalam berpenampilan berubah secara tiba- tiba, kesehatan menurun. Akibatnya siswa akan kurang menaruh perhatian terhadap pelajaran, atau mudah mengalami depresi mental, emosional, kurang ada minat membaca buku maupun menyelesaikan pekerjaan rumah serta daya ingta menurun. Penanganan kesulitan belajar oleh hal demikian sebaiknya dilakukan oleh orang yang memiliki kompetensi, baik psikologis, medis, maupun agamis.
3.      Faktor Intelektual
Siswa yang mengalami kesulitan  belajar disebabkan oleh faktor intelektual, umumnya kurang berhasil dalam menguasai konsep, prinsip, atau algoritma, walaupun telah berusaha mempelajarinya. Siswa yang mengalami kesulitan mengabstraksi, mengeneralisasi, berpikir deduktif dan mengingat konsep-konsep maupun prinsip-prinsip biasanya akan selalu merasa bahwa matematika itu sulit. Siswa demikian biasanya juga mengalami kesulitan dalam memecahkan masalah terapan atau soal cerita. Ada juga siswa yang kesulitannya terbatas dalam materi tertentu, tetapi merasa mudah dalam materi lain berbagai kemungkinan mengenai hal ini akan di bahas pada bab lain.
4.      Faktor Pedagogis
Diantara penyebab kesulitan belajar siswa yang sering di jumpai adalah faktor kurang tepatnya guru mengelola pembelajaran dan menerapkan metodologi. Misalnya guru masih kurang memperhatikan kemampuan awal yang di miliki siswa, guru langsung masuk ke materi baru. Ketika terbentur kesulitan siswa dalam peemahaman, guru mengulang pengetahuan dasar yang diperlukan. Kemudian melanjutkan lagi materi baru yang pembelajarannya terpenggal. Jika ini berlangsung dan bahkan tidak hanya sekali dalam suatu tatap muka, maka akan muncul tercapainya suatu kompetensi. Kejadian yang di alami siswa dan sering muncul menurut guru adalah ketika dijelaskan mengerti, ketika mengajarkan sendiri tidak bisa. Kesulitan itu dapat terjadi karena guru kurang memberikan latihan yang cukup di kelas dan memberikan bantuan  kepada yang memerlukan, meskipun sudah berusaha keras menjelaskan materinya. Hal ini terjadi karena guru belum menerapkan hakekat belajar matematika, yaitu bahwa belajar matematika hakekatnya berfikir dan mengerjakan matematika. Berfikir ketika mendengarkan penjelasan guru, mempunyai implikasi tanya jawab merupakan salah satu bagian penting dalam belajar matematika. Dengan tanya jawab ini proses diagnosis telah diawali. Ini berarti diagnostic teaching, pembelajaran dengan senantiasa sambil mengatasi kesulitan siswa telah dilaksanakan dan hal ini yang dianjurkan cara guru memilih metode. Pendekatan dan strategi dalam pembelajaran akan berpengaruh terhadap kemudahan atau kesulitan siswa dalam belajar. Jika demikian maka guru perlu introspeksi pada sistem pembelajaran yang dijalankannya.
Kesulitan siswa dalam memahami konsep terkait dengan:
Ø  Ketidakmampuan memberikan nama singkat atau nama teknis.
Ø  Ketidakmampuan menyatakan arti istilah pada konsep.
Ø  Ketidakmampuan untuk mengingat
Ø  Ketidakmampuan memberikan contoh konsep.
Ø  Kesalahan klasifikasi
Ø  Ketidakmampuan menerima Ketidakmampuan dan memahami informasi dari konsep.
Secara umum langkah mengatasi kesulitan dalam pembelajaran yaitu sebagai berikut :
a.       Guru dan siswa harus menyadari adanya kesulitan yang dialami siswa
b.      Guru dan siswa harus berusaha mengidentifikasi konsep atau prinsip yang sulit dipahami siswa.
c.       Guru dan siswa perlu mencoba mengidentifikasi penyebab kesulitan belajar yang dialami siswa.
d.      Guru perlu memberikan bantuan kepada siswa dalam mengembangkan prosedur untuk memecahkan kesulitan siswa.
e.       Siswa dengan bantuan guru harus melaksanakan tugas-tugas atau berusaha memperhatikan apa yang dijelaskan guru dan aktif memberikan umpan balik pada bagian mana siswa masih mengalami kesulitan.
f.       Guru perlu selalu mengefaluasi keberhasilan siswa dalam mengatasi kesulitan yang dihadapi siswa serta selalu mengevaluasi prosedur pembelajaran.
b)      Potret Keberhasilan atau kegagalan pembelajaran matematika SMP
Tingkat kelulusan Ujian Nasional (UN) SMP/MTs/SMPT 2010 turun 4,78% di banding tahun 2009 presentasinya mencapai 95,05%, sementara tahun ini turun menjadi 90,27% atau ada sekitar 350.798 siswa yang di nyatakan harus mengulang UN pada 17-20 mei 2010. Bila di lihat dari jumlah sekolah yang tahun ini dinyatakan memiliki hasil kelulusan 0% terdapat 561 sekolah di seluruh Indonesia dengan jumlah siswa mengulang sebanyak 9.283 siswa (0.26%) dari total peserta 3.606.163 siswa. Sekolah yang terbanyak angka ketidaklulusannya, antara lain di provinsi Nusa Tenggara Timur sebesar 39,87% dan provinsi Gorontalo sebesar 38,80% sedangkan angka ketidaklulusan terendah di provinsi Bali yakni 1,4%.( Jakarta,(tvOne)). Dari 350.798 siswa yang harus mengulang ada 12,19% yang harus mengulang 4 mata pelajaran yang di ujikan. Adapun mata pelajaran yang di ujikan yakni Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika dan IPA. Sementara 21,19% yang mengulang satu mata pelajaran. Di sisi sekolah, mendiknas menyebutkan, ada 516 sekolah yang memiliki tingkat kelulusan 0% atau seluruh siswanya tidak lulus UN utama. Sementara yang lulus 100% atau semua siswanya yang lulus ada 17.852 sekolah atau 41% dari 43.666 SMP yang ikut UN utama.
Mendiknas mengatakan, dominasi ketidaklulusan masih di pegang beberapa provinsi seperti Nusa Tenggara Timur sebesar 39,87%, Gorontalo 38,80%, Babel 34,69%, Kalimantan Timur 29,44%, DKI 28,97%, Kalimantan Barat 27,49%, Bengkulu 24,03%, DIY 21,98%, Sulawesi Tenggara 20,30%, Kepulauan Riau 18,79%, Kalimantan Tengah 17,22% dan Maluku Utara 15,16%. Sementara yang paling rendah tingkat ketidaklulusannya adalah Bali 1,40%, Sumatera Selatan 1,49%, Jawa Barat 2,41%, Sulut 2,62%, Sumatera Utara 2,83% dan Banten 3,57%.
Materi Pokok dan Sub Pokok Pembelajaran Matematika SMP
Kelas VII semester 1
Materi Pokok
Sub Materi pokok
Bilangan
1. Memahami sifat-sifat
operasi hitung bilangan
dan penggunaannya
dalam pemecahan
masalah
1.1 Melakukan operasi hitung bilangan bulat dan pecahan
1.2 Menggunakan sifat-sifat operasi hitung bilangan bulat dan pecahan dalam pemecahan masalah
Aljabar
2. Memahami bentuk aljabar, persamaan dan
pertidaksamaan linear
satu variabel
2.1 Mengenali bentuk aljabar dan unsur- unsurnya
2.2 Melakukan operasi pada bentuk aljabar
2.3 Menyelesaikan persamaan linear satu variabel
2.4 Menyelesaikan pertidaksamaan linear satu variabel
3. Menggunakan bentuk
aljabar, persamaan dan
pertidaksamaan linear
satu variabel, dan
perbandingan dalam
pemecahan masalah
3.1 Membuat model matematika dari masalah yang berkaitan dengan persamaan dan pertidaksamaan linear satu variabel
3.2 Menyelesaikan model matematika dari masalah yang berkaitan dengan persamaan dan pertidaksamaan linear satu variabel
3.3 Menggunakan konsep aljabar dalam
pemecahan masalah aritmetika sosial yang sederhana
3.4 Menggunakan perbandingan untuk
pemecahan masalah
Kelas VII, Semester 2
Materi pokok
Sub Materi Pokok
Aljabar
4. Menggunakan konsep
himpunan dan diagram
Venn dalam pemecahan
masalah
4.1 Memahami pengertian dan notasi
himpunan, serta penyajiannya
4.2 Memahami konsep himpunan bagian
4.3 Melakukan operasi irisan, gabungan,
kurang (difference), dan komplemen pada
himpunan
4.4 Menyajikan himpunan dengan diagram Venn
4.5 Menggunakan konsep himpunan dalam pemecahan masalah
Geometri
5. Memahami hubungan
garis dengan garis, garis
dengan sudut, sudut
dengan sudut, serta
menentukan ukurannya
5.1 Menentukan hubungan antara dua garis, serta besar dan jenis sudut
5.2 Memahami sifat-sifat sudut yang terbentuk jika dua garis berpotongan atau dua garis sejajar berpotongan dengan garis lain
5.3 Melukis sudut
5.4 Membagi sudut
6. Memahami konsep segi
empat dan segitiga serta
menentukan ukurannya
6.1 Mengidentifikasi sifat-sifat segitiga
berdasarkan sisi dan sudutnya
6.2 Mengidentifikasi sifat-sifat persegi
panjang, persegi, trapesium, jajargenjang,
belah ketupat dan layang-layang
6.3 Menghitung keliling dan luas bangun
segitiga dan segi empat serta
menggunakannya dalam pemecahan
masalah
6.4 Melukis segitiga, garis tinggi, garis bagi, garis berat dan garis sumbu
Kelas VIII, Semester 1
Materi pokok
Sub Materi Pokok
Aljabar
1. Memahami bentuk aljabar,
relasi, fungsi, dan
persamaan garis lurus
1.1 Melakukan operasi aljabar
1.2 Menguraikan bentuk aljabar ke dalam
faktor-faktornya
1.3 Memahami relasi dan fungsi
1.4 Menentukan nilai fungsi
1.5 Membuat sketsa grafik fungsi aljabar
sederhana pada sistem koordinat Cartesius
1.6 Menentukan gradien,
2. Memahami sistem persamaan
linear dua variabel
dan menggunakannya
dalam pemecahan masalah
2.1 Menyelesaikan sistem persamaan linear dua variabel
2.2 Membuat model matematika dari masalah
yang berkaitan dengan sistem persamaan
linear dua variabel
2.3 Menyelesaikan model matematika dari
masalah yang berkaitan dengan sistem
persamaan linear dua variabel dan
penafsirannya
Geometri dan Pengukuran
3. Menggunakan Teorema
Pythagoras dalam
pemecahan masalah
3.1 Menggunakan Teorema Pythagoras untuk
menentukan panjang sisi-sisi segitiga sikusiku
3.2 Memecahkan masalah pada bangun datar
yang berkaitan dengan Teorema Pythagoras
Kelas VIII, Semester 2
Materi pokok
Sub Materi Pokok
Geometri dan Pengukuran
4. Menentukan unsur,
bagian lingkaran serta
ukurannya
4.1 Menentukan unsur dan bagian-bagian
lingkaran
4.2 Menghitung keliling dan luas lingkaran
4.3 Menggunakan hubungan sudut pusat,
panjang busur, luas juring dalam pemecahan masalah
4.4 Menghitung panjang garis singgung
persekutuan dua lingkaran
4.5 Melukis lingkaran dalam dan lingkaran luar suatu segitiga
5. Memahami sifat-sifat
kubus, balok, prisma,
limas, dan bagianbagiannya,
serta
menentukan ukurannya
5.1 Mengidentifikasi sifat-sifat kubus, balok,
prisma dan limas serta bagian-bagiannya
5.2 Membuat jaring-jaring kubus, balok, prisma dan limas
5.3 Menghitung luas permukaan dan volume
kubus, balok, prisma dan limas
Kelas IX, Semester 1
Materi pokok
Sub Materi Pokok
Geometri dan Pengukuran
1. Memahami kesebangunan
bangun datar dan
penggunaannya dalam
pemecahan masalah
1.1 Mengidentifikasi bangun-bangun datar
yang sebangun dan kongruen
1.2 Mengidentifikasi sifat-sifat dua segitiga
sebangun dan kongruen
1.3 Menggunakan konsep kesebangunan
segitiga dalam pemecahan masalah
2. Memahami sifat-sifat
tabung, kerucut dan bola,
serta menentukan
ukurannya
2.1 Mengidentifikasi unsur-unsur tabung,
kerucut dan bola
2.2 Menghitung luas selimut dan volume
tabung, kerucut dan bola
2.3 Memecahkan masalah yang berkaitan
dengan tabung, kerucut dan bola
Statistika dan Peluang
3. Melakukan pengolahan dan
penyajian data
3.1 Menentukan rata-rata, median, dan modus
data tunggal serta penafsirannya
3.2 Menyajikan data dalam bentuk tabel dan
diagram batang, garis, dan lingkaran
4. Memahami peluang
kejadian sederhana
4.1 Menentukan ruang sampel suatu percobaan
4.2 Menentukan peluang suatu kejadian
sederhana
Kelas IX, Semester 2
Materi pokok
Sub Materi Pokok
Bilangan
5. Memahami sifat-sifat
bilangan berpangkat dan
bentuk akar serta
penggunaannya dalam
pemecahan masalah
sederhana
5.1 Mengidentifikasi sifat-sifat bilangan
berpangkat dan bentuk akar
5.2 Melakukan operasi aljabar yang melibatkan
bilangan berpangkat bulat dan bentuk akar
5.3 Memecahkan masalah sederhana yang
berkaitan dengan bilangan berpangkat dan
bentuk akar
6. Memahami barisan dan
deret bilangan serta
penggunaannya dalam
pemecahan masalah
6.1 Menentukan pola barisan bilangan sederhana
6.2 Menentukan suku ke-n barisan aritmatika
dan barisan geometri
6.3 Menentukan jumlah n suku pertama deret
aritmatika dan deret geometri
6.4 Memecahkan masalah yang berkaitan
dengan barisan dan deret
B.     Identifikasi Masalah
Dari uraian latar belakang diatas, dapat diklasifikasikan faktor Kesulitan Belajar Matematika di SMP lain:
1.      Faktor Sosial
2.      .Faktor Emosional Siswa
3.      Faktor Intelektual
4.      Faktor Pedagogis
C.    Batasan Masalah
Penyusun membatasi masalah tentang  Materi Pokok dan Sub Pokok Pembelajaran Matematika SMP terutama pada materi Aritmetika Sosial.
D.    Tujuan Penulisan
Tulisan ini bertujuan untuk menambah wawasan para pembaca, khususnya para mahasiswa jurusan matematika, fakultas keguruan dan ilmu pendidikan Universitas PGRI Yogyakarta agar nantinya dalam membuat rencana pelaksanaan pembelajaran dan dapat menerapkan model pembelajaran yang sesuai dengan tingkat perkembangan siswa dan materi pembelajaran.
E.     Manfaat Penulisan
1.      Dapat memberikan solusi kepada pembaca tentang penerapkan model pembelajaran SMP
2.      Dapat memberikan pengarahan kepada para pendidik agar bisa mendidik sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran
F.     Metode Penulisan
Kepustakaan atau pengumpulan data. Metode ini sebagai sumber dan bahan dalam penulisan yang berhubungan dengan masalah yang dikemukakan.
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Deskripsi Topik Aritmetika Sosial
Berdasarkan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), materi aritmetika sosial terdiri atas:
  1. Melakukan simulasi aritmetika sosial tentang kegiatan ekonomi sehari-hari.
  2. Memahami pengertian harga beli, harga jual dan menemukan persamaan umum  untung, rugi, harga jual, harga beli, rabat, neto pajak, dan bunga.
  3. Menghitung nilai keseluruhan, nilai perunit, dan nilai sebagian, dan
  4. Menentukan besar dan persentase, laba, rugi, harga jual, harga beli, rabat, neto, pajak dan bunga tunggal dalam kegiatan ekonomi.
Berikut uraian kompetensi dasar dan indikator-indikator pencapaian hasil belajar pada materi aritmetika sosial berdasarkan kurikulum satuan pendidikan (KTSP), mata pelajaran SMP kelas VII semester ganjil.
a)      Kompetensi dasar. Menggunakan bentuk Aljabar dalam pemecahan masalah aritmetika sosial yang sederhana.
b)     Indikator pencapaian hasil belajar materi Aritmetika Sosial
Harga pembelian, harga penjualan, untung, dan rugi.
  1. Membahas tentang pengertian harga pembelian, harga penjualan, untung dan rugi;
  2. Membahas tentang hubungan harga pembelian, harga penjualan, untung, dan rugi;
Persentase untung dan rugi
  1. Membahas tentang pengertian persentase untung dan rugi;
  2. Membahas mengenai cara menentukan persentase untung dan rugi;
  3. Membahas mengenai cara menentukan harga pembelian atau harga penjualan berdasarkan persentase untung atau rugi yang diketahui;
Rabat (diskon), bruto, tara, dan netto
  1. Membahas pengertian diskon, bruto, tara, dan netto
  2. Membahas hubungan antara netto, Tara, dan bruto
Bunga tabungan dan pajak
  1. Membahas pengertian bunga tabungan;
  2. Membahas pengertian pajak penghasilan, dan pajak pertambahan nilai;
Untuk Mengajarkan materi Aritmetika Sosial
Dalam mengajarkan topik Aritmetika Sosial kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa yaitu “Menggunakan bentuk Aljabar dalam pemecahan masalah aritmetika sosial yang sederhana”.
Memahami masalah kontekstual
Guru memberikan masalah kontekstual untuk memahami masalah yang harga jual, harga beli, untung, dan rugi. Jika terdapat hal-hal yang kurang dipahami oleh siswa, guru memberikan petunjuk seperlunya terhadap bagian-bagian yang belum dipahami siswa.
Memecahkan masalah kontekstual
Untuk menuntun pemikiran siswa kearah pengertian harga beli, harga jual dan cara menentukan untung dan rugi, maka pertanyaan-pertanyaan dalam setiap masalah itu perlu dirinci. Siswa secara individu diminta memecahkan masalah “Pedagang Buah” dan “Sepeda Motor”. Masalah-masalah yang dimaksud adalah:
Masalah “Pedagang Buah”.
Pak Badu adalah seorang pedagang buah. Ia membeli 10 kg jeruk dengan harga Rp100.000,00. Kemudian ia menjual jeruk tersebut dengan harga Rp12.000,00 per kg.
  1. Berapa harga beli untuk 10 kg jeruk tersebut?
  2. Berapa harga jual untuk 10 kg jeruk tersebut?
  3. Apakah harga jual lebih besar dari harga beli? Atau sebaliknya?
  4. Untung atau rugikah Pak Badu?
  5. Berapa besar keuntungan atau kerugian Pak Badu?
Masalah “Sepeda Motor”.
Pak Andi membeli sebuah sepeda motor merk Vega R dengan harga Rp12.000.000,00. Beberapa bulan kemudian karena kebutuhan yang mendesak, sepeda motor tersebut dijual kembali dengan harga Rp 9.000.000,00.
  1. Berapa harga beli sepeda motor tersebut?
  2. Berapa harga jual sepeda motor tersebut?
  3. Apakah harga beli lebih besar dari harga jual? Atau sebaliknya?
  4. Untung atau rugikah Pak Andi?
  5. Berapa besar keuntungan atau kerugian Pak Andi?
Pada tahap ini siswa dibimbing untuk menemukan kembali konsep matematika melalui masalah kontekstual yang diberikan, yaitu “pengertian harga beli dan harga jual serta cara menentukan besar untung atau rugi” melalui ungkapan dengan kata-kata sendiri. Selain itu, pada tahap ini siswa juga diarahkan untuk membentuk dan menggunakan model sendiri guna memudahkan menyelesaikan masalah.
Menyimpulkan
Berdasarkan hasil diskusi kelompok dan diskusi kelas yang dilakukan, guru mengarahkan siswa untuk menarik kesimpulan tentang “pengertian dan hubungan harga pembelian, harga penjualan, untung, dan rugi”. Selanjutnya dibahas tentang presentase untung dan rugi.
BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
 Pembelajaran materi Aritmetika Sosial dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut.
  1. Penyajian masalah “Pedagang Buah” dan “Sepeda Motor”. Siswa diminta untuk memahami masalah-masalah tersebut. Jika terdapat hal-hal yang kurang dipahami oleh siswa, guru memberikan petunjuk seperlunya terhadap bagian-bagian yang belum dipahami siswa (fase 4 pembelajaran kooperatif, membimbing kelompok bekerja dan belajar).
  2. Secara individu siswa memecahkan kedua masalah menurut cara sendiri. Selanjutnya untuk membimbing siswa mengonstruksi pengertian  harga jual, harga beli, untung, dan rugi, maka siswa memecahkan masalah-masalah tersebut dengan tuntunan LKS (fase 4 pembelajaran kooperatif, membimbing kelompok bekerja dan belajar).
  3. Dengan komunikasi interaktif, guru mengarahkan siswa untuk mencermati keterkaitan antara “harga beli dan harga jual” dengan “untung dan rugi”.  Melalui pengarahan tersebut diharapkan siswa dapat menyimpulkan bahwa “cara menentukan besar keuntungan adalah harga jual – harga beli, sedangkan cara menentukan besar kerugian adalah harga beli -  harga jual” (fase 4 pembelajaran kooperatif, membimbing kelompok bekerja dan belajar dan masih dilakukan pada fase 5 yaitu evaluasi).
  4. Guru bersama siswa merumuskan pengertian harga jual, harga beli dan cara menentukan besar keuntungan dan kerugian (fase 5 pembelajaran kooperatif, evaluasi).
B.     SARAN
Berdasarkan kesimpulan diatas, maka diharapkan kepada para guru matematika SMP dapat menerapkan pembelajaran matematika,membuat rencana pelaksanaan pembelajaran dan dapat menerapkan model pembelajaran yang sesuai dengan tingkat perkembangan siswa dan materi pembelajaran SMP.

Gemar Menonton TV, Menyempitkan Pembuluh Darah Mata Pada Anak

Gemar Menonton TV, Menyempitkan Pembuluh Darah Mata Pada Anak
Terlalu lama berada di depan layar TV sangat tidak dianjurkan, apalagi bagi anak-anak yang seharusnya aktif bermain. Tak hanya bisa memicu obesitas, hobi nonton TV membuat anak rentan mengalami penyempitan pembuluh darah pada mata.

Hal ini terungkap dalam penelitian terbaru yang dilakukan Dr Bamini Gopinath dari Sydney University. Dalam penelitian tersebut ia melibatkan 1.500 anak berusia 6-7 tahun yang rata-rata nonton TV 2 jam/hari dan hanya 36 menit beraktivitas di luar ruangan.

Hasil analisis menunjukkan, risiko penyempitan pembuluh darah pada mata dialami oleh anak-anak yang lebih banyak nonton TV dan hanya beraktivitas di luar selama kurang dari 30 menit. Anak-anak yang bermain di luar selama 1 jam atau lebih relatif aman dari risiko tersebut.

Dr Gopinath mengatakan, penyempitan pembuluh darah pada mata merupakan indikator sistem peredaran darah di seluruh tubuh. Risiko terburuk dari gangguan tersebut antara lain tekanan darah tinggi atau hipertensi, stroke dan serangan jantung di usia dini.

“Kami menemukan bahwa perubahan pada pembuluh arteri yang letaknya di belakang mata mencerminkan kondisi kardiovaskular di bagian lain pada tubuh anak,” ungkap Dr Gopinath dalam laporannya seperti dikutip dari Dailymail.

Pada orang dewasa, penyempitan pembuluh darah pada bagian tersebut diketahui merupakan faktor risiko penyakit jantung dan pembuluh darah termasuk stroke. Oleh karena itu pemeriksaan kardiovaskular wajib dilakukan harus segera dilakukan sebelum terlambat.

Sementara itu juru bicara asosiasi dokter mata di Amerika Serikat, Adrian Bell mengatakan penyempitan pembuluh darah di mata pada anak-anak juga memicu gangguan penglihatan saat berusia 20-an tahun. Orang-orang zaman dahulu matanya lebih sehat karena lebih jarang menonton TV.(http://www.voa-islam.com)

(sydh/dtc)

FUI Abaikan Tantangan Konfrontasi Fisik Kubu Syafii Maarif

FUI Abaikan Tantangan Konfrontasi Fisik Kubu Syafii Maarif
JAKARTA (voa-islam.com) – Forum Umat Islam menyesalkan ancaman kubu Syafii Maarif yang membawa-bawa ormas kepemudaan Islam di tingkat nasional untuk melakukan konfrontasi fisik menghadapi tabloid Suara Islam.

Hal itu disampaikan Sekjen Forum Umat Islam (FUI) KH Muhammad Al Khaththath dalam konferensi pers bersama seluruh jajaran Tabloid Suara Islam (SI) Kamis siang (9/12/2010) di Kantor Luthfie & Partners, Menteng, Jakarta Pusat

Khaththath menjelaskan, bahwa apa yang diberitakan Suara Islam itu bukanlah berita fitnah, karena wartawannya sudah mengkonfirmasi, tapi tidak diladeni Syafii Maarif. Bahkan dia menugaskan asistennya untuk menjawab. Itu pun dengan nada ancaman.

”Kami sangat menyesalkan, bila Suara Islam dianggap memuat berita fitnah,” kata Khaththath yang juga Pemimpin Umum Tabloid Suara Islam itu. “Suara Islam diterbitkan oleh Forum Umat Islam (FUI), di mana Dewan redaksinya adalah para kiai, ulama dan pimpinan ormas Islam,” tambahnya.

Karenanya, dengan asas ukhuwah islamiyah, FUI tidak akan meladeni tantangan provokatif kubu Syafii Maarif untuk melakukan konfrontasi fisik.

“Kami tidak dalam posisi berseberangan dengan ormas Islam. Kami menyesalkan atas statemen seorang pemuda yang mengatasnamakan ormas Islam tertentu yang ingin konfrontasi dengan FUI. Ini sangat berbahaya, dan sangat tidak kita inginkan. Bukannya kami tidak berani konfrontasi. FUI sudah biasa konfrontasi. Sungguh, kami menyayangkan pernyataan itu,” tegasnya.

….Kami tidak dalam posisi berseberangan dengan ormas Islam. Kami menyesalkan atas statemen seorang pemuda yang mengatasnamakan ormas Islam tertentu yang ingin konfrontasi dengan FUI, ujar Khaththath…

Sebagaimana diberitakan voa-islam sebelumnya, dalam jumpa pers di kantor pengacara Todung Mulya Lubis di Jakarta, Rabu (8/12/2010), Syafii Maarif tampil didampingi kuasa hukumnya Todung Mulya Lubis, M Deddy Julianto (pemilik apartemen Taman Rasuna Said), dan Saleh Partaonan Daulay.

Dalam pernyatannya, Deddy Julianto mengeluarkan kata-kata sarkasme “goblok” kepada wartawan. Sedangkan Dr Saleh Partaonan Daulay MAg, M.Hum, MA memakai kop surat dan stempel ormas kepemudaan Islam di tingkat nasional, mengancam akan melakukan konfrontasi fisik dengan mengerahkan sebuah ormas nasional di tingkat pusat untuk menghadapi redaktur Tabloid Suara Islam. [taz/desastian]

Berita Terkait:

Buya Syafii Maarif, Mengapa Harus Berguru kepada Kristen?
Inilah Tabloid Suara Islam yang Menyoal Apartemen 2 Miliar Syafii Maarif.
Dulu Kecam Preman Berjubah, Sekarang Syafii Maarif Gunakan ‘Oknum’ Preman.
Forum Jurnalis Muslim: Kerja Jurnalistik Tabloid Suara Islam Sudah Benar.
FUI Abaikan Tantangan Konfrontasi Fisik Kubu Syafii Maarif
Berang Ditanya Apartemen 2 Milyar, Syafii Maarif Gugat Tabloid Suara Islam.
Syafii Maarif Akui Menempati Apartemen Rasuna Said, Tapi Tak Senilai 2 Miliar.
Soal Apartemen 2 Miliar, Syafii Maarif Lecehkan Pekerjaan Wartawan.
Kubu Syafii Maarif Sebut Kata “Goblok” pada Wartawan. Katanya Guru Bangsa.
Diancam Fisik, ‘Suara Islam’ Balik Tuding Syafii Maarif Lecehkan Wartawan.

sertifikasi

Khusus untuk rekan-rekan guru PNS maupun non PNS yang belum mengikuti Program Sertifikasi Guru dalam Jabatan, mungkin waktunya untuk mempersiapkan segala berkas dan kelengkapan guna memperlancar proses sertifikasi yang mungkin tahun ini harus diikuti. Berdasarkan pengalaman penulis (penulis mengikuti program ini tahun 2008) memang terdapat beberapa berkas yang harus dipersiapkan jauh-jauh hari sebelumnya. Misalnya : (1) Foto Copy Ijazah S1/S2 yang telah dilegalisir oleh pihak yang berwenang; (2) Foto copy SK penugasan (khusus yang pernah mengajar di sekolah swasta harus ditandatangani oleh yayasan); (3) Berbagai sertifikat keikutsertaan dalam seminar, lokakarya, atau kegiatan lain yang berkaitan dengan mata pelajaran yang diampu, dll.

Persiapan yang dimulai lebih awal tentu dengan maksud agar memperingan beban kita saat waktunya tiba. Karena biasanya waktu yang tersedia tidak terlalu banyak, sehingga jika belum dipersiapkan sedari awal akan menambah beban kita. Mungkin juga tidak ada salahnya jika rekan-rekan mencoba untuk berkonsultasi dengan rekan-rekan yang telah mengikuti program ini sebelumnya, sehingga akan mendapat gambaran lebih jelas apa saja yang harus dipersiapkan.

Menurut Buku 1 Pedoman Penetapan Peserta Serifikasi Guru Dalam Jabatan yang diterbitkan oleh Direktorat Jendral Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Kementrian Pendidikan Nasional tahun 2010, Persyaratan peserta sertifikasi tahun 2010 adalah sebagai berikut :

1. Persyaratan Umum.

Guru yang masih aktif mengajar disekolah di bawah binaan Kementerian Pendidikan Nasional yaitu guru yang mengajar disekolah umum, kecuali guru Agama. Sertifikasi guru bagi guru Agama (termasuk guru Agama yang memiliki NIP 13) dan semua guru yang mengajar di Madrasah (termasuk guru bidang studi umum yang memiliki NIP 13) diselenggarakan oleh Kementerian Agama dengan kuota dan aturan penetapan peserta dari Kementerian Agama. Sesuai Surat Edaran Bersama Direktur Jenderal PMPTK dan Sekretaris Jenderal Departemen Agama Nomor SJ/Dj.I/Kp.02/1569/2007, Nomor 4823/F/SE/2007 Tahun 2007.

Guru dalam jabatan pengawas dengan ketentuan : (a) bagi yang bukan dari guru harus diangkat sebelum berlakunya Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru(1 Desember 2008), atau (b) bagi yang diangkat setelah berlakunya Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru tetapi memiliki pengalaman formal sebagai guru. (c) Guru bukan PNS harus memiliki SK sebagai guru tetap dari penyelenggara pendidikan, sedangkan guru bukan PNS pada sekolah negeri harus memiliki SK dari dinas pendidikan provinsi/kabupaten/kota. (d) Pada tanggal 1 Januari 2011 belum memasukki usia 60 tahun. (d) Memiliki Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK)

2. Persyaratan Khusus untuk Uji Kompetensi melalui Penilaian Portofolio :

a. Memiliki kualifikasi akademik sarjana (S-1) atau Diploma empat (D-IV) dari program studi yang memiliki ijin penyelenggaraan.

b. Memiliki masa kerja sebagai guru (PNS maupun bukan PNS) minimal 5 tahun pada suatu satuan pendidikan.

c. Guru dan guru yang diangkat dalam jabatan pengawas satuan pendidikan yang belum memiliki kualifikasi S-1 / D-IV apabila sudah : (i) Pada 1 Januari 2010 telah mencapai usia 50 tahun dan memiliki pengalaman kerja 20 tahun sebagai guru atau (ii) Mempunyai golongan IV/a atau memenuhi angka kredit setara dengan golongan IV/a.

3. Persyaratan khusus untuk Guru yang diberi sertifikat langsung :

Guru dan guru yang diangkat dalam jabatan pengawas satuan pendidikan yang memiliki kualifikasi akademik magister (S‐2) atau doktor (S‐3) dari perguruan tinggi terakreditasi dalam bidang kependidikan atau bidang studi yang relevan dengan mata pelajaran atau rumpun mata pelajaran yang diampunya, atau guru kelas dan guru bimbingan dan konseling atau konselor, dengan golongan sekurang‐kurangnya IV/b atau yang memenuhi angka kredit kumulatif setara dengan golongan IV/b.

Guru dan guru yang diangkat dalam jabatan pengawas satuan pendidikan yang memiliki golongan serendah‐rendahnya IV/c atau yang memenuhi angka kredit kumulatif setara dengan golongan IV/c.

Demikian sekedar info yang dapat saya sampaikan berdasarkan sumber dari www.sertifikasiguru.org. Info selengkapnya silahkan kunjungi situs tersebut. Untuk mendownload Buku 1 Pedoman Penetapan Peserta Sertifikasi tahun 2010 silahkan klik disini. Terima kasih dan selamat bekerja dan berkarya, semoga sukses selalu.

sumber:masioker.wordpress.com

cooperative learning

Strategi Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning). Perkembangan peradaban kehidupan manusia secara perspektif menuntut kecakapan hidup sebagaimana trend kebutuhan dalam era kehidupan global saat ini. Interaksi kehidupan manusia terjadi secara global, memungkinkan terjadinya banyak benturan baik yang bersifat budaya maupun kepribadian. Budaya dan kepribadian manusia sesungguhnya banyak dipengaruhi oleh keyakinan dan tingkat pengetahuan yang diperoleh dari proses pendidikan. Dengan demikian, anak sepatutnya mendapatkan pendidikan tentang budaya kehidupan global dengan bekal kemampuan interaksi dan kolaborasi yang baik.

Strategi Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan faham konstruktivis. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran.

 

Salah satu strategi yang dapat diterapkan dalam pembelajaran di kelas adalah strategi pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif telah dikembangkan melalui riset ilmiah diberbagai negara di dunia, sehingga sitematikanya dapat diterapkan disemua tingkat pendidikan dan di semua mata pelajaran termasuk Ilmu Pengetuan Alam (Biologi). Strategi pembelajaran kooperatif telah dikembangkan dalam berbagai tipe variasi, di antaranya adalah Think-Pair-Share, Students Teams Achievement Devition, Teams Games-Turnament, Jigsaw, dan sebagainya. Tipe pembelajaran tersebut memiliki penekanan yang berbeda tetapi semuanya masih dalam konsep regular dari pembelajaran kooperatif. Misalnya, Think-Pair-Share memiliki penekanan terhadap pengembangan kemampuan siswa menguji ide dan pemahamannya sendiri dan menerima umpan balik. Sedangkan Teams Games-Tournament menekankan pada tanggung jawab individu dalam berkonstribusi terhadap kesuksesan kelompok dalam suasana kompetitif.

Hakikat Pembelajaran Kooperatif

Menurut Kagan (1994) pembelajaran kooperatif adalah strategi pengajaran yang sukses di mana tim kecil, masing-masing dengan siswa dari tingkat kemampuan yang berbeda, menggunakan berbagai aktivitas belajar untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang suatu subjek. Setiap anggota tim bertanggung jawab tidak hanya untuk belajar apa yang diajarkan tetapi juga untuk membantu rekan belajar, sehingga menciptakan suasana prestasi bersama-sama. Students work through the assignment until all group members successfully understand and complete it. Siswa bekerja melalui penugasan sampai semua anggota kelompok berhasil memahami dan menyelesaikannya.

 

Pembelajaan kooperatif dikembangkan berdasarkan teori perkembangan kognitif Vygotsky. Dalam teorinya, Vygotsky percaya bahwa anak aktif dalam menyusun pengetahuan mereka. Menurut Santrock (2008), ada tiga klaim dalam inti pandangan Vigotsky, yaitu (1) keahlian kognitif anak dapat dipahami apabila dianalisa dan diinterpretasikan secara developmental; (2) kemampuan kognitif dimediasi dengan kata, bahasa dan bentuk diskursus, yang berfungsi sebagai alat psikologis untuk membantu dan mentransformasikan aktivitas mental; dan (3) kemampuan kognitif berasal dari relasi sosial dan dipengaruhi oleh latar belakang sosiokultural. Implementasi teori Vygotsky untuk pendidikan anak mendorong pelaksanaan pengajaran yang menggunakan strategi pembelajaran kolaboratif atau pembelajaran kooperatif.

 

Dari tinjauan psikologi belajar, Djamarah (2008) mengemukakan bahwa belajar merupakan serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dalam pengertian tersebut, belajar melibatkan dua unsur penyusun tubuh manusia, yaitu jiwa dan raga. Untuk mendapatkan perubahan, gerak raga harus sejalan dengan proses jiwa. Dengan demikian, perubahan yang diperoleh bukanlah perubahan fisik, tetapi perubahan jiwa dengan gerakan fisik sebagai sebab masuknya kesan-kesan baru.

 

Dari tinjauan fisiologi otak, neuron-neuron yang berperan dalam pemrosesan informasi membentuk modul-modul yang saling berhubungan dan membentuk jalur majemuk yang pada gilirannya membentuk daerah atau komunitas korteks. Setiap modul memiliki rancangan genetic khusus yang menjadikannya ahli dalam satu aena interaksi dengan dunia. Beberapa sirkuit memproses sejumlah emosi, beberapa memproses interaksi sosial, beberapa memproses indrawi, dan lainyya menangani pikiran atau hal-hal terkait dengan gerakan, warna dan sebagainya. Oleh karena semua sistem kompleks ini memproses informasi secara khusus, maka disebut sebagai sistem pembelajaran (Given, 2007). Sistem pembelajaran dipandu oleh kode genetik dan dipengaruhi oleh input lingkungan dalam membentuk pola respons. Aspek genetik merupakan aspek bawaan dan bersifat permanen sedangkan input lingkungan yang paling kuat adalah pola pengasuhan dalam hal ini orang tua dan guru. Struktur dalam pembelajaran kooperatif, memberikan peluang yang sangat tinggi dalam mengembangkan lima sistem pembelajaran primer anak, yaitu emosional, sosial, kognitif, fisik dan reflektif.

 

Menurut Given (2007), untuk meningkatkan efektivitas belajar, guru perlu menciptakan iklim kelas yang kondusif bagi keamanan emosional dan hubungan pribadi untuk siswa. Guru yang memupuk sistem emosional berfungsi sebagai mentor bagi siswa dengan menunjukkan antusiasme yang tulus terhadap anak didik, dengan menemukan hasrat untuk belajar, dengan membimbing mereka mewujudkan target pribadi yang masuk akal, dan mendukung mereka dalam upaya menjadi apapun yang bisa mereka capai. Jika pembelajaran memenuhi kriteria ini, maka kecemasan akademis diperkecil dan sistem emosional siswa siap untuk belajar. Kecenderungan alamiah sistem pembelajaran sosial adalah hasrat untuk menjadi bagian dari kelompok, dihormati dan menikmati perhatian dari yang lain. jika sistem emosioanl bersifat pribadi, berpusat pada diri dan internal, maka sistem sosial berfokus pada interaksi dengan orang lain atau pengalaman interpersonal. Kebutuhan sosial siswa menuntut sekolah dikelola menjadi komunitas pelajar, tempat guru dan siswa bisa bekerja sama dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah yang nyata. Dengan berfokus pada kelebihan siswa dalam konteks kelas, kita menerima perbedaan sebagai berkah individual untuk dihormati, dan bukan sebagai perbedaan yang harus diperbaiki. Cara ini dapat memaksimalkan perkembangan sosial melalui kerja sama tulus anta-individu, perbedaan di antara mereka justru menciptakan petualangan kreatif dalam pemecahan masalah.

 

Menurut Given (2007), sistem pembelajaran kognitif otak berhubungan dengan mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan perkembangan kecakapan akademis lainny. Sistem kognitif mengandalkan input sensoris, dan berfungsinya perhatian, pemrosesan informasi, dan beberapa subsistem memori secara memadai untuk mengontsruksi pengetahuan dan kecakapan. Perhatian pada sistem kognitif menempatkan guru pada peran fasilitator pembelajaran dan siswa pada peran pemecah masalah dan pengambil keputusan nyata. Sistem kognitif berfungsi paling baik jika sistem lain yakni emosional, sosial, fisik dan reflektif tidak bersaing dalam menarik perhatian. Jika sistem emosional dan sosial tertekan, sistem kognitif kehilangan kemampuan untuk memusatkan perhatian pada upaya mengatasi masalah dan membuat keputusan akademis. Dengan demikian, memperoleh kecakapan dan pengetahuan menjadi prioritas kedua dan ketiga dalam sistem operasi majemuk pikiran.

 

Pembelajaran juga sangat tergantung pada kebutuhan sistem pembelajaran fisik untuk melakukan banyak hal, serta kecenderungan siswa untuk terlibat dalam pembelajaran. Meskipun sebagian siswa menghindari pembelajaran tactual dan kinestetik, namun siswa lain bisa menikmati pembelajaran hanya jika modalitas ini dilibatkan. Sistem pembelajaran fisik menyukai tugas akademik yang menantang yang mirip olah raga, dan perlu terlibat aktif karena sistem ini tidak bisa memproses informasi secara pasif. Sedangkan sistem pembelajaran reflektif melibatkan pertimbangan pribadi terhadap pembelajarannya sendiri. Sistem ini menuntut siswa untuk memahami diri sendiri, dan ini bisa dikembangkan dengan pelbagai cara pembelajaran. Sebagai contoh, menyimpan catatan prestasi dan interpretasi kemajuan siswa bisa menjadi petunjuk tentang sistem dan subsistem pembelajaran yang paling efektif untuk anak tertentu. untuk mengoptimalkan perkembangan sistem pembelajaran reflektif, otak perlu mendapatkan instruksi eksplisit dalam pemantauan diri dan analisis kinerja. Disinilah peran guru dalam bertindak sebagai pencari bakat yang mengenali kelebihan siswa, kemudian membimbing dan memupuk kelebihan itu menjadi bakat nyata.

 

Aspek penting lain yang dapat mempengaruhi efektivitas sistem kognitif di kelas adalah guru. Guru harus menunjukkan minat dan memahami dengan baik kandungan materi yang diajarkan. Jika siswa merasa bahwa guru antusias terhadap materinya, antusiasme itu menular karena dapat mendorong hasrat kuat untuk belajar dan meraih prestasi akademis. Guru pun harus menunjukkan penerimaan dan penghargaan terhadap siswa berdasarkan kelebihan dan gaya belajar yang disukai masing-masing. Pembelajaran kooperatif dirancang untuk dapat mengakomodasi kelima sistem pembelajaran yang terdapat dalam kompleks korteks otak. Dengan rancangan pembelajaran berkelompok dalam kelas, siswa mendapat peluang mengembangkan kemampuan dan potensi diri melalui aktivitas individual dan  kolaboratif yang proporsional. Menurut Slavin (2008), pembelajaran kooperatif merupakan strategi yang efektif untuk meningkatkan prestasi terutama jika disediakan penghargaan tim atau kelompok dan tanggung jawab individual.

 

Penghargaan atau pengakuan diberikan kepada kelompok sehingga anggota kelompok dapat memahami bahwa membantu orang lain adalah demi kepentingan mereka juga. Sedangkan tanggung jawab individual merupakan bentuk akuntabilitas individu di mana setiap orang memiliki kontribusi yang penting bagi tim atau kelompok. Metode pembelajaran kooperatif telah sering digunakan oleh para guru di sekolah selama bertahun-tahun dalam bentuk kelompok laboratorium, kelompok tugas, kelompok diskusi dan sebagainya.  Namun, penelitian terakhir di Amerika dan beberapa negara lain telah menciptakan metode-metode pembelajaran kooperatif yang sistematis dan praktis yang ditujukan unutk digunakan sebagai elemen utama dalam pola pengaturan di kelas.
Ok!! demikian ulasan mengenai strategi pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) yang dapat saya tulis di blog ini yang penulis susun dari beberapa sumber, kritik dan saran untuk kemajuan blog ini silahkan melalui form komentar, semoga bermanfaat!!