“Teaching Geometry to Visually Impaired Students”

Artikel dengan judul “Teaching Geometry to Visually Impaired Students” ini ditulis oleh Christine K. Pritchard, seorang guru Geometri di Robert E. Lee High School Texas, dan John H. Lamb, mantan guru Matematika SMP dan SMA dan sekarang menjadi asisten profesor pendidikan Matematika di University of Texas. Artikel ini berisi tentang pengalaman penulis tentang mengajar geometri kepada peserta didiknya yang memiliki keterbatasan penglihatan (tuna netra). Dalam mengajarkan geometri kepada tuna netra, terdapat beberapa kendala yang disebutkan pada artikel ini. Karena pada dasarnya, kemampuan visualisasi sangat diperlukan dalam pemahaman geometri. Kendala-kendala yang dihadapi penulis, seperti yang disebutkan dalam artikel ini, adalah sebagai berikut:

TANTANGAN LOGISTIK

Buku Teks

Kendala yang pertama adalah mengenai buku teks. Tidak semua buku, khususnya buku teks geometri, menyediakan buku teks edisi Braille. Untuk mengatasi permasalahan ini, penulis menerapkan pembelajaran kooperatif. Siswa-siswa yang tidak mengalami keterbatasan penghilatan dan satu kelompok dengan siswa tuna netra, diminta untuk membaca materi dengan suara yang lantang, agar temannya yang tuna netra dapat mendengar dan mengetahui konsep dalam buku tersebut.

Penulisan Catatan dan Pemecahan Masalah (Problem Solving)

Pencatatan materi yang telah dibahas serta pengerjaan tugas dan problem solving diperlukan oleh semua siswa, termasuk siswa yang tuna netra, untuk lebih memahami konsep dari materi geometri. Untuk itu diperlukan juru ketik Braille untuk mempersiapkan itu semua untuk siswa yang tuna netra.

Teknologi dan Keterbatasannya

Komputer yang berbasis Braille sangat membantu dalam memfasilitasi siswa yang tuna netra. Akan tetapi terdapat keterbatasan pada komputer semacam ini. Pada komputer ini tidak dapat digunakan untuk melukis gambar-gambar geometris beserta unsur-unsurnya. Solusi dari permasalahan ini adalah dengan penggunaan paku bagi siswa tuna netra. Paku tersebut digunakan untuk memberikan benjolan/tanda pada kertas. Sehingga, paku tersebut dapat digunakan untuk melukis gambar geometri pada kertas berupa benjolan menyerupai gambar geometris.

Penulisan Simbol

Tidak seperti siswa pada umumnya, siswa yang memiliki keterbatasan penglihatan tidak dapat menuliskan simbol-simbol geometris. Siswa tuna netra tidak dapat menyingkat penulisan kalimat-kalimat geometris, seperti yang dapat dilakukan oleh siswa pada umunya. Keterbatasan ini menjadi tantangan yang sulit bagi siswa tuna netra dalam mempelajari geometri.

TANTANGAN KONTEKSTUAL

Salah satu tantangan dalam mengajarkan geometri kepada siswa yang memiliki keterbatasan penglihatan adalah bahwa siswa tersebut tidak memiliki konteks. Sebagai guru matematika, biasanya digunakan konteks-konteks untuk mengkaitkan konsep yang abstrak dari materi yang akan dibahas dengan contoh-contoh dalam kehidupan sehari-hari untuk membantu siswa dalam pemahaman materi tersebut. Hal inilah kelemahan siswa tuna netra dibandingkan dengan siswa normal.

Perspektif

Salah satu hal kontekstual yang sulit untuk dilakukan oleh siswa tuna netra adalah menggambar perspektif benda 3 dimensi menjadi bentuk 2 dimensi pada kertas. Misalkan pada tabung. Tabung adalah benda ruang yang memiliki alas berbentuk lingkaran. Akan tetapi pada penggambaran tabung pada kertas, alas tabung lebih menyerupai oval. Hal inilah yang perlu dijelaskan secara lebih khusus kepada siswa yang tuna netra.

Kubus dan Tabung

Rotasi Bangun Ruang

Keterbatasan terakhir yang dialami oleh siswa tuna netra adalah tentang menggambar garis pada koordinat Cartesius, kemudian menemukan luas dan keliling dari bangun yang dikelilingi oleh garis-garis tersebut. Hal ini dapat diatasi dengan penggunaan geoboard. Siswa tuna netra dapat menggambar garis dengan memanfaatkan karet gelang yang dihubungkan pada paku-paku geoboard.

Pada kebanyakan siswa, lebih-lebih siswa tuna netra, masih sering mengalami kesulitan dalam menggambarkan bangun ruang yang dibentuk dari rotasi bangun datar. Untuk mengatasi permasalahan ini, penggunaan alat peraga sangat membantu dalam pembelajaran geometri, tidak hanya kepada siswa tuna netra, tetapi juga kepada semua siswa.

Kesimpulan

Pemahaman geometri tidak hanya bergantung pada visualisasi gambar-gambar geometri dengan mata. Permasalahan geometri dapat digambarkan dengan berbagai macam cara; masalah tersebut dapat diucapkan, dibaca, digambar, dan dirasakan. Semua siswa dapat belajar; walaupun dengan cara yang berbeda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s